History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Perubahan pola konsumsi atau persoalan daya beli?

  • 14 November, 2017
  • Editor
Perubahan pola konsumsi atau persoalan daya beli?

Jakarta (RTI/ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2017 sebesar 5,06 persen, yang didukung oleh membaiknya kinerja ekspor maupun investasi. Pada periode ini, ekspor tercatat tumbuh sebesar 17,27 persen, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 7,11 persen, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga sebesar 6,01 persen, konsumsi rumah tangga 4,93 persen dan konsumsi pemerintah 3,46 persen.

Meski ekspor dan investasi menunjukkan tanda-tanda perbaikan sepanjang 2017, namun persoalan konsumsi rumah tangga yang makin melambat mulai menjadi perhatian tersendiri. Konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2017 sebesar 4,93 persen tercatat sedikit melambat dibandingkan triwulan II-2017 yang mencapai 4,95 persen. Realisasi itu bahkan lebih rendah dibandingkan periode triwulan III-2016 yang tercatat 5,01 persen. Permasalahan ini menjadi penting karena konsumsi rumah tangga tercatat memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur PDB Indonesia yaitu mencapai 55,68 persen pada triwulan III-2017.

Perlambatan di sektor ini terlihat dari turunnya pertumbuhan dari komponen makanan dan minuman, pakaian, alas kaki dan jasa perawatannya serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga, dibandingkan triwulan sebelumnya. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan salah satu penyebab konsumsi rumah tangga tidak tumbuh optimal pada periode ini adalah karena adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Ia menjelaskan saat ini mulai terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari yang awalnya bersifat pembelian barang atau ritel (non-leisure) kepada yang bersifat kegiatan waktu luang atau rekreasi (leisure).

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan mempelajari terlebih dulu penyebab terjadinya kelesuan di sektor konsumsi rumah tangga, terkait kemungkinan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat.

Menurut dia, tidak ada persoalan daya beli yang mengganggu masyarakat, yang diduga menjadi penyebab konsumsi rumah tangga tidak tumbuh optimal dalam dua triwulan terakhir, terutama pada kelompok menengah atas. Ia menduga fenomena lesunya konsumsi domestik ini terjadi karena perubahan pola konsumsi dari masyarakat menengah atas atau adanya aktivitas ekonomi yang belum sepenuhnya terekam oleh BPS.

Komentar

Terbarumore