Kesalahan dalam sejarah mungkin bisa dimaafkan, tapi sejarah sendiri tidak boleh dilupakan. Taiwan dan Jepang memang telah menandatangani perjanjian perikanan, tapi Republik Tiongkok tidak boleh melangkah mundur dalam isu kedaulatan atas daerah kekuasaannya.
Demikian ditegaskan oleh Presiden Ma Ying-jeou melalui kata sambutan yang disampaikan dalam acara temu pers pembukaan “Pameran Peringatan Kemenangan Perang dan Restorasi Taiwan.” Acara tersebut digelar di Taipei pada hari Senin dalam rangka 77 tahun peringatan Insiden Lugouqiao dan 120 tahun peringatan Perang Sino-Jepang Pertama.
Insiden Lugouqiao (Insiden Jembatan Marco Polo) yang juga dikenal sebagai Insiden 7-7 karena terjadi pada 7 Juli, 1937, adalah pertempuran antara Republik Tiongkok dan Kekaisaran Jepang, menandai dimulainya Perang Sino-Jepang Kedua.
Sementara itu, Perang Sino-Jepang Pertama terjadi pada 1 Agustus, 1894 sampai 17 April, 1895 antara pemerintah Dinasti Qing di Tiongkok dan Meiji Jepang. Perang ini juga dikenal sebagai sebutan Perang Jiawu.
Presiden Ma mengemukakan, perlawanan terhadap agresi Jepang, baik Perang Sino-Jepang Pertama yang juga dikenal sebagai Perang Jiawu maupun Perang Sino-Jepang Kedua yang berawal dari Insiden Lugouqiao, adalah pertempuran yang dahsyat dan kejam, tapi pertempuran ini tidak hanya membuat Tiongkok maju menjadi salah satu dari empat negara terkuat di dunia, juga menghapuskan semua perjanjian tidak adil bagi Tiongkok, termasuk direstorasinya kekuasaan atas Taiwan.
Ma mengatakan, “Kita tidak boleh lupa, Diaoyutai adalah daerah kekuasaan Tiongkok yang paling awal diinvasi oleh Jepang. Tiga bulan sebelum Perjanjian Shimonoseki ditandatangani antara pemerintah Jepang dan Tiongkok, Kabinet Jepang telah memerintahkan didirikannya bendera menandakan invasi Jepang di Diaoyutai. Aksi ini tidak diumumkan dan merupakan penjajahan atas daerah kekuasaan Tiongkok, maka merupakan ‘aksi ilegal’ menurut hukum internasional. Jadi dikuasainya Diaoyutai oleh Jepang adalah konsekuensi dari Perjanjian Shimonoseki.”
Kepala negara juga mengutarakan, tahun depan adalah waktu untuk memperingati 70 tahun kemenangan Perang Sino-Jepang Kedua. Ma telah menginstruksi Kantor Kepresidenan, Yuan Eksekutif dan Kementrian Pertahanan Nasional untuk merencanakan serangkaian acara untuk memperingati peristiwa penting tersebut.