(Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan belum berhasil terlaksananya perjanjian dagang dan jasa antar selat, ditambah lagi dengan pengajuan program peraturan pengawasan perjanjian yang berjalan tidak lancar dalam sidang Yuan Legislatif, dalam menghadapi persaingan ketat dari negara Korea Selatan, Presiden Ma Ying-jeou pada hari Kamis tanggal 3 Juli saat berjumpa dengan pihak media dalam kunjungan kenegaraannya ke El Savador, menjelaskan dirinya khawatir bagaikan hidup dalam bara api. Namun saat pemerintah ingin melaksanakan sebuah program kerja, terus menghadapi problema yang menghalangnya.
Presiden Ma menegaskan kunci utama masalah adalah masih ada sebagian orang yang terus mencaci maki pihak Daratan Tiongkok. Namun jika dilihat dari sudut pandang perdagangan dunia internasional, hal ini hanya merupakan salah satu bagian dari organisasi perdagangan dunia semata, jika Taiwan tidak melihat kenyataan ini sebagai sebuah masalah, maka hanya akan menghacurkan masa depan sendiri saja.
Presiden Ma mengatakan, “Apakah kita masih ingin menjalin hubungan kerjasama ekonomi dengan badan ekonomi terbesar kedua di dunia atau tidak? Mengapa selalu ingin mencibir hubungan antar selat dan menganggap Daratan Tiongkok laksana monster. Saya rasa pada waktunya tiba, semua hal tersebut hanya akan merugikan diri kita sendiri. Saya juga tidak pernah mengagungkan Daratan Tiongkok laksana malaikat, namun tentu tidak usah menganggapnya sebagai monster. Kembalikanlah dia sebagai partner usaha pertama kita. Untuk itu kita harus bersikap tenang dan bijak dalam melakukan pilihan.”
Presiden Ma selanjutnya menyebutkan bahwa persengketaan dalam negeri terus membuang banyak kesempatan yang ada, dan ini sangat memprihatinkan semua masyarakat.
Presiden Ma mengatakan, “Dalam kondisi penundaan yang tiada artinya dan juga perang mulut yang tiada habisnya, hanya akan menghabiskan kesempatan yang kita miliki, dan jika waktunya tiba, maka kita tidak mungkin dapat mengejarnya kembali. Kita telah ketinggalan banyak dengan negara lain. Dan saat ini masih saja terjadi pertikaian dalam negeri, dan pertikaian ini bukanlah untuk mematikan partai KMT tetapi malah akan mematikan perekonomian Taiwan sendiri.”
Presiden Ma menyebutkan bahwa mantan Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton, pernah mengemukakan bahwa perekonomian Taiwan jangan terlalu banyak bersandar kepada pasar Daratan Tiongkok. Pernyataan ini membuat Ma sedih, karena perekonomian Taiwan 10 tahun sebelum ia memimpin Taiwan telah bersandar terhadap pasar Daratan Tiongkok. Dan kini jumlah neraca perdagangan Taiwan terhadap Daratan Tiongkok dan Hongkong telah menurun, namun Ma kembali mengungkapkan bahwa Taiwan tidak mungkin untuk tidak melihat pasar Daratan Tiongkok, karena selain pasar yang sangat besar, jarak kedua belah pihak yang sangat dekat, juga memiliki latar belakang kebudayaan yang hampir sama. Terlebih-lebih dalam 12 negara anggota organisasi TPP, terdapat 7 negara yang menjadikan Daratan Tiongkok sebagai partner ekonomi pertama mereka.