(Taiwan, ROC) Hukum Perlindungan bagi siswa terjun ke lapangan kerja mulai diberlakukan pada tahun lalu, namun aturan ini menyebabkan tidak sedikit pengusaha tidak lagi mempekerjakan siswa magang, demikian juga menimbulkan siswa sekolah menengah kejuruan tidak bisa mendapatkan pengalaman bekerja, anggota kaukus legislator Chen Shei-Saint(陳學聖), dan Hsu Chih-chieh(許智傑) saat ini sedang mengusulkan agar aturan tersebut dapat direvisi, disesuaikan dengan ringkup undang-undang perburuhan. Kementerian pendidikan mengutarakan, telah menampung suara dari siswa dan pengusaha, pada hari rabu tanggal 2 Juli mendatang akan mengundang kementerian ketenagakerjaan dan pakar untuk mempelajari aturan ini serta mempertimbangkan untuk melakukan revisi aturan agar mekanisme lebih fleksibel.
Pada tanggal 30 Juni, banyak pengusaha dalam rapat pembahasan ekonomi nasional, menyampaikan aturan hukum perlindungan bagi siswa magang kaku dan keras, contohnya tidak boleh lembur, tidak boleh bekerja di shift malam, sehingga pengusaha merasa lebih baik diubah dengan upah minimum dan mempekerjakan pekerja berpengalaman bukan boneka militer, ataupun bagi mereka yang sangat membutuhkan uang, ingin bekerja lembur, dengan aturan tersebut maka siswa tidak diijinkan lembur dan pendapatan juga berkurang.
Wakil menteri pendidikan, Lin Shu-cheng(林淑真) mengutarakan, hukum perlindungan bagi siswa magang akan dipelajari kembali oleh kementerian pendidikan dan kemenaker, bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi siswa kejuruan yang terjun ke lapangan kerja, kemendik bersedia untuk meninjau kembali bersama dengan kemenaker, mengubah hukum yang ada sehingga juga memberikan ruang lingkup yang lebih fleksibel.
Deputi Dirjen Administrasi Pendidikan Kemendik, Wang Cherng-Shian(王承先) mengatakan, kemndik bersedia untuk membahas ulang dan melihat ke sisi riil, menjadikan aturan yang lebih fleksibel, namun untuk siswa kejuruan yang baru berusia 16 atau 17 tahun, jika setiap hari harus bekerja lebih dari 8 jam, atau ikut dalam 3 shift bekerja di malam hari, ini akan mengganggu pertumbuhan mental jiwa siswa, untuk pertumbuhan siswa dengan masa yang masih panjang, tetap memberikan mereka lingkungan kerja yang aman, sehingga hal ini tetap harus dipertimbangkan.
Hsu Chih-chieh mengatakan, pada tahun tersebut saat dibentuknya hukum tersebut, ia juga telah memberikan pandangannya agar siswa magang disetarakan dengan undang-undang perburuhan, namun kemendik beranggapan untuk kebaikan siswa, dan menetapkan aturan baru yang memberikan batasan terhadap waktu pelatihan, lembur, ketentuan upah, semua pada akhirnya dalam praktek menimbulkan masalah, ada sebagian pengusaha membatalkan maupun mengurangi mempekerjakan siswa, sehingga siswa kehilangan kesempatan untuk mencari pengalaman kerja.
Chen Shei-Saint juga mengatakan, aturan hukum perlindungan bagi siswa, dengan aturan setiap hari siswa hanya diijinkan mendapat waktu pelatihan tidak lebih dari 8 jam, tidak boleh dijalankan pada malam hari, namun sebagian pabrik juga harus mengejar pemesanan, siswa magang menjadi hambatan bagi mereka, sehingga mereka juga membatalkan untuk program perekrutan siswa magang.
Dari aturan hukum yang berlaku, dengan asas memberikan perlindungan bagi siswa, namun dalam prakteknya mengikat pengusaha dan pabrik, sehingga untuk beberapa perusahaan internasional yang bergerak dalam usaha makanan dan perhotelan serta pabrik mundur dalam program ini, dari pendataan terdapat sekitar 3.000 siswa magang secara serius terpengaruh, sehingga ini menjadi kerugian untuk program membangun siswa.