(Taiwan, ROC) Lebih dari 1.000 tenaga kerja asing di Taiwan berkumpul di Taipei pada hari Minggu, 2 Oktober, untuk menuntut dengan cepat disetujuinya suatu amandemen yang akan menghapuskan kebutuhan bagi buruh migran untuk pulang kampung atau meninggalkan Taiwan setidaknya satu hari setiap tiga tahun agar bisa direkrut ulang.
Pada saat ini, buruh migran menandatangani kontrak paling panjang tiga tahun dengan majikannya, diharuskan meninggalkan Taiwan ketika masa kontrak berakhir, dan harus membayar beaya agen antara NTD80.000 dan NTD150.000 sebelum bisa masuk untuk bekerja lagi di Taiwan.
Disebabkan peraturan ini, banyak TKA memilih kabur dari pekerjaannya sebelum masa kontrak tiga tahun berakhir, kata sekretaris jenderal Asosiasi Buruh Internasional Taiwan (TIWA) Chen Jung-jou (陳容柔) yang mengorganisir aksi protes tersebut.
Mengenakan pita kuning dan melambaikan spanduk bertulisan “Menghapuskan Exit Satu Hari Setiap Tiga Tahun” dan “Buruh Migran Mengoposisi Eksplotasi,” para pemrotes berjalan dari markas besar partai berkuasa Partai Progresif Demokratik (DPP) ke gedung Yuan Legislatif, di mana amandemen tersebut sedang direvisi.
Chen mengecam para agen buruh migran menggunakan “argumen distriminatif dan tidak sesuai kenyataan” untuk berusaha menghalangi Yuan Legislatif meluluskan amandemen tersebut.
Menurut Chen, para agen mengargue bahwa menghapuskan kebutuhan tersebut akan meningkatkan kesempatan bagi buruh migran untuk kabur dari pekerjaan, dan bahwa berubahnya status buruh migran menjadi imigran baru akan merendahkan kualitas populasi Taiwan.
Akibat oposisi ini, lanjut Chen, amandemen yang seajunya direncanakan melewati pembacaan kedua Juli lalu, sampai sekarang tidak mencapai kemajuan apa pun.