(Taiwan, ROC) – Sebelumnya karena masalah libur yang masih belum dipastikan, pengusaha menolak hadir dalam pertemuan evaluasi Upah Minimum Nasional bulan Juli yang lalu dan kejadian serupa juga akan terulang kembali besok. Menurut hasil keputusan rapat komisaris Asosiasi Pengusaha di Rabu ini (7/9) disampaikan, bahwa 7 asosiasi industri tidak akan hadir dalam rapat evaluasi Upah Minimum Nasional karena permintaan mereka sudah disampaikan dengan tegas sebelumnya.
Ketua Lin Po-feng mengatakan : Kami tidak akan hadir besok, karena kami pihak pengusaha sudah menyampaikan dengan jelas, tinggal sikap pemerintah, diserahkan kepada pemerintah, kalau kami ikut maka kami akan menentangnya.
Salah satu perwakilan dari pihak buruh, Ketua Asosiasi Buruh Taoyuan Tseng Rong-hsiang (曾榮祥) menuturkan, hadir atau tidak perwakilan dari pengusaha, rapat akan tetap dijalankan, pihak buruh akan mengajukan kenaikan UMN sekaligus sampai ke NT$ 26.000.
Ia mengatakan : Kami berharap ada penyesuaian besar, saat ini dengan Korea Selatan sudah hampir 2 kali lipat, kita baru NT$ 20.008, Korea Selatan sudah lebih dari NT$ 38.000, sehingga melihat perbandingan perkembangan ekonomi antara Taiwan dengan Korea Selatan maka seharusnya dinaikan sampai NT$ 26.000.
Lin Po-feng menegaskan, bersedia menerima kebijakan pemerintah, menaikan UMN sebanyak 3% sampai ke NT$ 20.608. Namun permintaan dari pihak buruh sampai ke NT$ 26.000 sangat dikhawatirkan akan mempengaruhi para lulusan SMA, mereka yang upah minimumnya berada di antara nilai UMN, karena asal pengusaha tinggal menambahkan sedikit saja sudah bisa merekrut lulusan S1. Ia berharap pemerintah dapat mengeluarkan “keputusan yang bijaksana”.