(Taiwan, ROC) – Guna memadukan Program Kebijakan Selatan Baru, Kementrian Pendidikan atau MOE, pada hari Kamis tanggal 25 Agustus menggelar jumpa pers, untuk memberikan penjelasan terkait pendidikan dasar yang akan diterapkan. Di kedepannya, pemerintah akan lebih giat lagi dalam memperluas dan memperdalam pertukaran pendidikan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sehingga dapat tercapai pendidikan lintas negara yang dapat diambil oleh generasi muda di Taiwan, mendidik sumber daya manusia yang kompeten, bersama mewujudkan pembangunan ekonomi di kawasan dan juga kerjasama yang saling menguntungkan dalam bidang pendidikan.
MOE mengumumkan dana yang akan diberikan dalam bidang pendidikan untuk tahun 2017 adalah sebesar NT$ 1 milyar, dimana akan diperuntukkan untuk membangun kemitraan dalam bidang pendidikan dengan ke sepuluh negara anggota ASEAN. Wakil Menteri MOE, Chen Liang-ji, dalam jumpa pers juga turut memaparkan secara terperinci perihal program pendidikan yang akan dilakukan mendatang.
Chen Liang-ji menyebutkan bahwa pihak MOE akan mengusung “Menjadikan manusia sebagai modal dasar, interaksi dan pendayagunaan sumber daya yang ada”, sebagai sasaran dalam Program Kebijakan Selatan Baru. Dalam hal ini akan terdapat 3 kerangka dasar yakni “Memperluas media kerjasama pendidikan kedua belah pihak”, “Memperbanyak interaksi dan perukaran pelajar” dan “Menyediakan pelayanan terbaik dalam bidang pendidikan”. Sehingga dapat mendidik sumber daya manusia yang baik, mendorong aliansi kerjasama dengan berbagai universitas yang ada di kawasan Asia Tenggara dan India. Hal ini dilakukan melalui penyediaan beasiswa, dengan prediksi awal peningkatan sebanyak 20% setiap tahunnya, agar dapat meningkatkan minat pelajar Asia Tenggara untuk sekolah di Taiwan. Pihak MOE memprakirakan jumlah pelajar asing yang akan berlajar di Taiwan pada tahun 2019, dapat mencapai sebanyak 58 ribu orang.
Chen Liang-ji mengatakan, “Kita memiliki banyak Tionghoa perantauan, dimana banyak teman-temannya yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di Taiwan, diharapkan dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan Taiwan. Untuk itu, kita seharusnya membantu memperlancar jalur pendidikan yang ada. Berkenaan dengan pengaruh untuk bidang usaha dan industri, kami dapat mendidik SDM yang berkualitas guna mendukung pembangunan perindustrian Taiwan. Dalam persaingan yang dihadapi oleh para pengusaha Taiwan, jelas membuktikan bahwa mereka membutuhkan bantuan SDM yang berkompetensi. Selain itu, banyak perusahaan yang telah melakukan investasi di Asia Tenggara. Saya rasa, pelatihan SDM sangat diperlukan, sehingga ke depannya, pelajar yang kita didik, dapat berguna bagi pembangunan dunia usaha.”
Chen Liang-ji kembali menjelaskan bahwa pengusungan ini tidak berarti akan mengurangi jumlah pelajar asal Daratan Tiongkok yang belajar ke Taiwan. Semua program ini disesuaikan dengan jumlah penduduk di kawasan Asia Tenggara yang terus berkembang, dan jumlah investasi yang terus mengalami peningkatan.