(Taiwan, ROC) Kaum ayah di Taiwan rata-rata menghabiskan 37% penghasilan untuk anak-anaknya, di mana 21% menggunakan separuh dari penghasilannya untuk penggunaan yang sama, demikian berdasarkan suatu hasil jajak pendapat yang dirilis oleh Bank Pekerjaan 1111 pada hari Minggu, 7 Agustus, satu hari sebelum dirayakannya Hari Ayah di Taiwan 8 Agustus.
Berdasarkan survei tersebut, 41,3% ayah Taiwan merasa tekanan paling besar dalam kehidupan adalah memberi makan dan mendidik anak-anaknya, sementara 33,7% menganggap tekanan paling besar adalah masalah ekonomi, dan 14% berpendapat pekerjaan adalah unsur penyebab tekanan paling besar.
Bank Pekerjaan 1111 mengemukakan contoh Hsun Wei, berusia 27 tahun, seorang mantan pelajar desain yang sekarang satu-satunya yang bekerja di keluarganya, sementara isterinya telah mengandung delapan bulan.
Menurut bank pekerjaan, komitmen finansialnya mencakup pembayaran hipotek rumah dan pinjaman pelajar, sementara pengeluaran rumah tangganya berjumlah sekitar NTD35.000 per bulan. Untuk itu, Hsin setidaknya harus memiliki penghasilan antara NTD60.000 dan NTD70.000 untuk menyeimbangkan kondisi keuangannya.
Sebuah contoh lain adalah “Show Boy” yang harus sering lembur untuk mencari lebih banyak uang. Penghasilannya berkisar dari NTD800.000 sampai NTD1 juta per tahun, tapi dia menghadapi tekanan finansial berat karena harus memenuhi semua beban keuangan keluarganya dan berencana mempunyai anak dalam waktu dekat.
Meskipun kaum lelaki pada umumnya memikul beban finansial lebih berat daripada wanita di satu keluarga, 27,4% tidak berani meminta izin libur untuk merawat anak di rumah, meskipun 31% darinya hendak berbuat demikian, dan sebenarnya diizinkan untuk menikmati liburan tersebut menurut undang-undang di Taiwan.
Wakil Presiden Bank Pekerjaan 1111 Daniel Lee (李大華) mengungkapkan, sehubungan dengan terus meningkatnya jumlah wanita di lapangan kerja, kaum lelaki seharusnya tidak menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga, dan kaum wanita seharusnya tidak menjadi satu-satunya pihak yang merawat anak di rumah.
Lee menyerukan pemerintah dan majikan untuk lebih fleksibel dalam isu memberikan izin libur merawat anak di rumah bagi kaum ayah dan mengizinkan pegawai lelaki untuk mengambil cuti agar bisa menjaga isteri yang mengandung dan anak-anak berusia dibawah dua tahun.
Menurut Lee, dengan adanya dukungan lebih besar dari pemerintah dan majikan, kaum ayah berusia muda dan berambisi tidak akan merasakan tekanan terlalu kuat, dan bisa meraih kembali kepercayaan untuk membangun keluarga sendiri.