(Taiwan, ROC) - Persengketaan antara Vietnam dan Daratan tiongkok telah menimbulkan ketegangan di kawasan perairan Laut Cina Selatan. Anggota Legislator dari partai KMT, Ji Guo-dong, pada hari Kamis tanggal 29 Mei saat melakukan rapat interpelasi dengan Ketua Dinas Keamanan Pantai atau CGA, Wang Jin-wang, menyatakan, sekalipun pihak Taiwan bersikap tidak ikut meramaikan persengketaan yang telah terjadi, namun tetap harus memiliki sikap mawas diri dengan cara melakukan monitorisasi kawasan sekitar, agar dapat menghindari kemungkinan terjadinya peperangan. Hal tersebut dapat dilakukan oleh pihak CGA dengan alasan “Lewat sambil istirahat” di pulau Taiping. Berkenaan dengan hal tersebut, Wang Jin-wang menyatakan bahwa pihaknya akan tetap melakukan pengawasan di perairan sekitar dan akan menghindari terjadinya pertikaian dengan pihak lain.
Selain itu, Wang Jin-wang juga menjelaskan tentang program rencana pengawasan perlindungan untuk perairan di sekitar Pulai Taiping.
Wang Jin-wang mengatakan, “Yang pertama, para petugas yang diutus adalah angkatan amphibi. Yang kedua adalah meningkatkan fungsi dari kapal patrol artileri. Peningkatan persenjataan anti perang yang akan memakan biaya sebesar NT$ 120 juta. Dan untuk tahun 2013-2014 juga akan diprogramkan pembangunan pelabuhan. Untuk kawasan kepulauan Selatan terdapat lebih dari 102 pulau, dan pulau Taiping adalah pulau yang terbesar, sehingga pembangunan pelabuhan di sana telah dimulai tahun ini dan menurut rencana akan selesai pada tahun depan.”
Wang Jin-wang menyebutkan sekalipun anggota pasukan tidak lebih dari seribu personil, namun CGA bersama dengan Kementrian Pertahananan Keamanan telah menyetujui untuk program antisipasi dan pengawasan yang lebih ketat.
Selain itu, insiden anti keturunan Tionghwa yang terjadi di Vietnam, telah mengakibatkan kerusakan dan penjarahan terhadap 408 perusahaan milik pengusaha Taiwan, dimana 25 di antaranya dibakar oleh massa, dan kerugian diperkirakan sekitar US$ 150 juta hingga US$ 500 juta. Menteri Perekonomian Chang Chia-juch dalam rapat di Yuan Legislatif menyebutkan bahwa kedua kementrian Taiwan dan Vietnam telah menyepakati untuk menyelesaikan penyelidikan permasalahan tersebut pada akhir bulan September mendatang, dan akan membahas apakah kerugian yang terjadi pada pengusaha Taiwan telah terselesaikan atau belum.
Chang Jia-juch mengatakan, “Jika sebagian dari mereka ada yang masih ingin tetap bertahan disana, bagaimana caranya untuk membangun kembali perusahaan yang ada. Dimana hal ini tidak mungkin diselesaikan dalam kurun waktu 2 atau 3 bulan, lantas akan muncul sesuatu yang baru, karena ini tidak mungkin terjadi. Tetapi jika pihak mereka telah memberikan bantuan penyelesaian hingga pihak pengusaha merasa cukup puas, maka hal ini dianggap telah selesai dan kami merasa hal tersebut telah terselesaikan.”
Namun Chang Jia-juch saat menjawab pertanyaan dari para wartawan, ia juga masih tetap merasa khawatir dengan kepastian pelaksanaan biaya ganti rugi yang akan dilakukan oleh pihak pemerintah Vietnam, dan pihaknya tetap akan melakukan pemantauan terhadap efisiensi pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah Vietnam.
Sehubungan dengan pertanyaan jika pemerintah Vietnam tidak mampu memberikan hasil yang diharapkan, Chang Jia-juch menjelaskan bahwa saat ini yang paling penting adalah menyelamatkan nyawa dan harta para pengusaha, dan hal ini diharapkan tidak sampai merusak hubungan persahabatan antara kedua belah pihak.