(Taiwan, ROC) Pelepasan Inggris dari Euro akan menimbulkan guncangan dahsyat terhadap perkembangan moneter internasional, tapi penggaruhnya terhadap Taiwan dalam waktu dekat sangat minimal. Meski demikian, masih ada banyak faktor tak tetap dalam perkembangan politik, maka Taiwan harus dengan teliti mengamati perubahan situasi.
Demikian diungkapkan Perdana Menteri Lin Chuan (林全) dalam rapat istimewa yang dipimpinnya Senin, 27 Juni, pagi untuk membicarakan dampak pelepasan Inggris dari Euro.
Turut hadir dalam rapat tersebut Kepala Dewan Pengembangan Nasional (NDC) Chen Tain-jy (陳添枝), Menteri Ekonomi Lee Shi-kuang (李世光), Menteri Keuangan Sheu Yu-jer (許虞哲), Kepala Komisi Pengawas Keuangan (FSC) Ding Kung-hwa, Gubernur Bank Sentral Peng Fai-nan (彭淮南) dan Wakil Menteri Luar Negeri Leo Lee Chen-jan (李澄然).
Menurut Lin Chuan, Taiwan harus memandang insiden krisis kali ini sebagai kesempatan, karena setelah mundur dari Euro, Inggris mungkin akan berusaha mengembangkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Asia, dan lembaga pemerintah tingkat Kementrian Ekonomi ke atas seharusnya bersiap-siap menangani perkembangan ini.
Juru bicara Yuan Eksekutif Tung Chen-yuan (童振源) memberitahukan wartawan, “Perdana Menteri menginstruksi Kementrian Ekonomi untuk meneliti strategi bersangkutan, mentransformasi krisis menjadi kesempatan baru. Misalnya, setelah Inggris melepaskan diri dari Euro, Inggris dan Euro mungkin akan berusaha mengembangkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Asia, maka kita harus berusaha menciptakan kesempatan bagi keberadaan Taiwan.”
Tung juga menegaskan, kapital global kelak mungkin akan tertarik untuk menanam modal di Taiwan, dan Kementrian Ekonomi diinstruksi untuk merancang kebijaksanaan menarik kesempatan investasi tersebut.