(Taiwan, ROC) – Presiden Tsai Ing-wen meresmikan Kantor Urusan Asia Tenggara Istana Kepresidenan pada hari Rabu tanggal 15 Juni, guna menggalakkan program hubungan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Kepala Kantor Institut Amerika-Taiwan di Taipei atau AIT, Kin Moy, menyampaikan bahwa pihak Amerika sangat mendukung program yang tengah diusung oleh Tsai. Namun Kepala Urusan Asia Tenggara Istana Kepresidenan, James Huang, menganggap bahwa program baru yang diusung tersebut belum dapat dipastikan meraih kesuksesan, hal ini disebabkan karena telah bertentangan dengan teori ilmu perekonomian yang ada.
James Huang pada hari Kamis tanggal 16 Juni saat menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh Biro Energi Kementrian Ekonomi, menjelaskan bahwa setiap negara yang ada di dunia, memiliki program kebijakan untuk masuk ke pasar Asia Tenggara. Oleh sebab itu, James menyebutkan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diminati oleh berbagai negara, sehingga dirinya juga mengharapkan semua pihak tidak menggunakan pola pikir era 90an dalam menjalankan program kebijaksanaan ke Asia Tenggara kali ini.
James Huang mengatakan, “Pihak Daratan Tiongkok telah menjalankan kebijaksaan serupa lebih awal, dimana sejak tahun 2010 telah mengadakan Dana Pembangunan Hubungan Asia Tenggara dan Daratan Tiongkok. Selanjutnya diusung kebijakan ‘Jalur sutra darat dan jalur sutra laut’, ‘Perbankan Pembangunan Infrastuktur Asia’. Setiap negara memiliki program kebijakan masing-masing. Untuk menghindari kesalahpahaman, maka janganlah menggunakan cara pola pikir era tahun 90an untuk program kebijaksanaan mengarah ke Asia Tenggara di tahun 2016 ini.”
Berkenaan dengan program kemudahan pengajuan visa jenis turis, yang akan diberikan kepada para wisatawan asal negara dari kawasan Asia Tenggara, yang semula hanya dibuka untuk Indonesia, India, Vietnam, Filipina dan Thailand, kini akan ditambah lagi dengan Laos, Kamboja dan Myanmar. James Huang menjelaskan bahwa dengan adanya pengusungan program serupa, pihak Jepang juga memberikan kemudahan yang lebih besar dan luas. Namun karena situasi dan kondisi di kedua belah pihak berbeda, maka pihak Taiwan harus membuka pintu dan kemudahan yang lebih besar lagi, bagi negara-negara dari kawasan Asia Tenggara.