(Taiwan, ROC) – Presiden Ma Ying-jeou pada hari Kamis tanggal 19 Mei pagi, menerima rombongan delegasi Amerika yang datang untuk menghadiri kegiatan Inaugurasi Presiden dan Wakil Presiden Republik Tiongkok ke 14, antara lain mantan perwakilan perdagangan Amerika, Ron Kirk, mantan Wakil Menteri Luar Negeri John Negroponte, Juru Bicara Kemenlu Alan Romberg, Kepala Institut Amerika Taiwan atau AIT, Raymond Burghardt dan Kepala Kantor AIT di Taipei, Kin Moy. Rombongan ini merupakan rombongan yang terakhir diterima selama kurun waktu 8 tahun masa jabatan Presiden Ma Ying-jeou.
Presiden Ma Ying-jeou menyampaikan bahwa inagurasi kali ini merupakan yang ke 6 kalinya diselenggarakan dalam sejarah perkembangan Republik Tiongkok. Ini merupakan yang ke tiga kali terjadinya pergantian partai politik yang akan duduk berkuasa, dengan peralihan yang berlangsung secara damai. Inaugurasi kali ini adalah yang pertama terjadi dalam sejarah, dimana presiden yang akan memegang tampuk kepemimpinan adalah seorang wanita, dan menjadi tonggak sejarah baru dalam sejarah perjalanan demokrasi dan Undang-Undang Dasar Republik Tiongkok.
Ma menyebutkan selama 8 tahun masa kepemerintahannya, dirinya telah melakukan 19 kali kunjungan lawatan ke Amerika, melakukan interaksi dengan lebih dari 185 anggota parlemen dan pejabat pemerintah setempat. Hal ini menjadi bukti nyata hubungan erat yang telah terjalin di kedua belah pihak dan Ma berharap presiden mendatang juga bisa mendapatkan perlakuan yang serupa.
Terkait bidang ekonomi dan perdagangan, Presiden Ma menyampaikan harapan Taiwan untuk dapat bergabung dalam keanggotaan Kemitraan Trans Pasifik atau TPP. Pemerintah mendatang juga memiliki pandangan yang sama mengenai keikutsertaan Taiwan di dalam TPP. Ma berharap pihak Amerika dapat memberikan dukungan Taiwan.
Presiden Ma mengatakan, “Sehubungan dengan kebutuhan Taiwan akan adanya kapal selam, sejak jaman pemerintah Presiden Bush di tahun 2001, telah menyetujui penjualan sebanyak 8 buah kapal selam, namun hingga kini masih belum ada perkembangan lebih lanjut. Untuk itu kami kini memadukan upaya pembuatan kapal selam sendiri dan juga peralihan teknologi. Kami berharap di masa yang akan datang, kedua belah pihak dapat segera memulai kerjasama untuk hal ini.”
Terkait masalah hubungan antar selat, Presiden Ma menegaskan bahwa sejak dirinya memegang tampuk kepemimpinan, di bawah kerangka Undang-Undang dasar Republik Tiongkok, mempertahankan status-quo, yakni tidak reunifikasi, tidak merdeka dan tidak perang. Sesuai dengan pondasi Konsensus 92, membangun perdamaian yang stabil di antara kedua belah pihak. Ma yang melakukan pertemuan dengan pimpinan Daratan Tiongkok Xi Jin-ping pada tahun lalu, membawa kondisi antar selat ke arah kesepahaman yang lebih stabil dan baru bagi masing-masing pihak.
Melihat perkembangan situasi dan kondisi untuk perairan di wilayah Timur dan Selatan, Ma kembali menyampaikan bahwa pihak Republik Tiongkok akan mengacu kepada keputusan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan dirinya juga berharap semua persengketaan yang terjadi di wilayah perairan dapat segera teratasi.