(Taiwan-ROC) Taiwan yang turut hadir dalam konferensi internasional baja, Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OED) mendapat tekanan dari delegasi Daratan Tiongkok dengan alasan “Tingkatan belum mencukupi”, dan diminta untuk tidak hadir. Menteri Ekonomi John Teng hari Rabu (20/4) ketika diinterpelasi oleh legislator partai DPP Qiu Yi-ying di Yuan Legislatif membenarkan terjadinya hal ini.
John Deng mengemukakan, kapasitas baja Daratan Tiongkok berlebihan dan mengunakan politik dumping sehingga membuat pusing negara-negara produksi baja di dunia, saat ini sudah ada 100 lebih negara yang memprotes politik dumping Daratan Tiongkok, untuk itulah dalam konferensi baja internasional OED menjadi topic utama yang dibahas. Mengenai status Republik Tiongkok dalam sidang OED sejak dulu statusnya sebagai pengamat dengan menggunakan sebutan “Chinese Taipei”, sedangkan Daratan Tiongkok hanya berstatus “undangan”, di sini status Taiwan lebih tinggi dari Daratan Tiongkok, sudah pasti Taiwan memiliki hak untuk hadir.
John Deng juga menegaskan, pada pagi hari pertama, sidang berjalan dengan lancar, tetapi sore hari sebelum sidang dimulai, Belgia selaku negara penyelenggara memberitahukan kalau posisi Taiwan terlalu rendah, tidak sesuai untuk hadir dalam sidang. John Deng menyampaikan, saat itu pula pihak Taiwan tidak setuju dan mengajukan protes, karena yang hadir adalah pimpinan dewan industri, di Taiwan kebijakan industri besi dan baja memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pengambilan kebijakan, dimasukan dalam tingkatan manajemen, tingkatan ini bisa diseterakan dengan delegasi dari negara lain yang hadir. Untuk itu Kementerian Ekonomi beranggapan, seharusnya karena Daratan Tiongkok tidak senang Taiwan turut hadir dalam sidang dan meragukan kebijakan terkait baja dari Daratan Tiongkok dengan alasan ini menekan Taiwan.
John Deng mengatakan, “Penjelasan saya adalah Daratan Tiongkok memiliki masalah serius dalam kebijakan terkait baja, tidak berharap terlalu banyak orang yang meragukan kebijakan bajanya.”
John Deng juga mengemukakan, dalam dunia internasional, terhadap rekan dagangnya, Taiwan sangat bertanggung jawab, untuk itu Belgia selaku negara penyelenggara tidak berapa lama kemudian meminta maaf pada Taiwan atas tindakannya. Ia juga berharap dari sini dunia internasional dapat belajar dan tidak lagi terjadi hal demikian.