History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pameran Kejadian 228 hingga Teror Putih Dibuka

  • 27 February, 2016
  • Editor
Pameran Kejadian 228 hingga Teror Putih Dibuka
Pameran Kejadian 228 hingga Teror Putih Dibuka

(Taiwan-ROC) – Tahun ini merupakan peringatan ke-69 tahun peristiwa 228. Pihak Museum 228 Taipei mengatakan, kejadian 228 serta “teror putih” (白色恐怖) usai masa peperangan, merupakan luka hak warga Taiwan yang tidak dapat diobati sepanjang sejarah. Meskipun dampak kepada lapisan, pola serta jenis dari kedua kejadian itu berbeda, namun memiliki keterkaitan. “Masa tenang” (綏靖) dan “pembersihan”(清鄉) setelah kejadian 228, terus berlanjut hingga tahun 1949, dimana pemerintahan Kuoming berpindah ke Taiwan. Apabila dilihat dari segi waktu, sangat berdekatan dengan teror putih, dimana para korban dari kejadian 228, sekali lagi dilukai dengan kejadian pada teror putih.

Pameran “Masa ketidakpastian : dari 228 hingga teror putih” dimana dibagi atas 4 area pemutaran video, yaitu rekaman kejadian, gambaran kejadian, tokoh dan peristiwa dan gambar-gambar, yang menjelaskan tentang hubungan antara dua kejadian. Selain itu juga menjelaskan tentang tekanan dari para penguasa di tahun 1950, yang menggunakan situasi sosial yang penuh dengan pengelompokkan dengan menampilkan koleksi peninggalan barang berharga, termasuk “buku pengumuman pelaksanaan pembersihan” pada era 228, “panggilan menyerah bagi para mata-mata, hadiah yang menemukan mata-mata” pada era teror putih. Tidak hanya itu saja, dalam acara ini juga dipamerkan surat kesedihan yang ditulis seorang dokter yang menjadi korban, bernama Lu Bing-qin (盧鈵欽), kepada istrinya, serta kejadian Xiao Qing-zhang (蕭慶璋) kelompok belajar Lin Zheng-heng (林政亨), yang ditembak didepan buku yang dibuat oleh tangannya sendiri.

Deputi Kebudayaan Kota Taipei, Pei-ni Beatrice Hsieh (謝佩霓) pada saat acara pembukaan menekankan, “Apabila tidak ada rasa bersejarah, maka tidak ada akan ada rasa futuristik”. Departemen Kebudayaan berkomitmen, akan menjaga dan menyimpan aset budaya ini.

Pei-ni Beatrice Hsieh mengatakan, “ia telah membuat aset budaya yang abstrak dan telah mempengaruhi Taiwan bertahun-tahun. Sampai saat ini telah berumur hampir 70 tahun. Kita tidak boleh membiarkan sejarah itu hilang, bagaimana pun caranya, kita akan berusaha dengan cara apa pun untuk mempertahankan keberadaan lokasi.”

Pameran ini diadakan di Museum 228 dan akan berlangsung hingga tanggal 26 Mei 2016, setiap hari selasa hingga minggu. Dalam masa pameran, akan mengadakan 4 kali forum pembahasan video dokumenter serta mengundang para saksi mata serta keluarga yang menjadi korban pada era tersebut sebagai pembicara.

Komentar

Terbarumore