(Taiwan, ROC) – Perihal buku baru yang ditulis oleh mantan Presiden Republik Tiongkok, Lee Teng-hui menyebutkan Republik Tiongkok saat ini adalah “Republik kedua atau New Republic”, juru bicara kantor kepresidenan Chen I-hsin pada hari Kamis tanggal 18 Februari, menyampaikan setelah Republik Tiongkok umumkan undang-undang negara, Presiden yang menjabat akan diambil sumpah di bawah undang-undang negara, mengapa dapat dikatakan ada “Republik kedua”? Kecuali Taiwan membentuk konstitusi baru, bagaimana mungkin dapat menjadi “Republik kedua”?
Chen I-hsin menekankan Republik Tiongkok adalah Republik Tiongkok, sama sekali tidak yang disebut dengan “Republik kedua”.
Chen I-hsin mengatakan, “Republik Tiongkok adalah Republik Tiongkok, semenjak tahun 1912 negara telah berjalan hampir 105 tahun, merupakan negara republik demokratik pertama di Asia, sama sekali tidak ada yang disebut dengan Republik kedua, pandangan pribadi dari mantan Presiden Lee sama sekali tidak ada dasar fundamental yang nyata dan tidak sesuai dengan landasan doktrin.”
Dalam buku Lee Teng-hui merujuk “Antar selat semestinya adalah dua negara”, Chen I-hsin mengemukakan, mantan Presiden Lee Teng-hui di tahun 1991 menjadi pemimpin konstitusional memperbaharui pasal konstitusi, penghentian mobilisasi periode pemberontakan dan mencabut ketentuan mobilisasi darurat guna antisipasi periode pemberontakan, posisi politik menetapkan antar selat memiliki entitas politik sederajat, berdasarkan hukum status Republik Tiongkok terbagi menjadi wilayah bebas dan wilayah Daratan Tiongkok, atau dengan kata lain, berdasarkan konstitusi berjalan saat ini, hubungan lintas selat bukan hubungan dua negara, Republik Tiongkok tidak mungkin mengakui secara resmi sebagai “Republik Rakyat Tiongkok”.
Chen I-hsin menambahkan, pada buku baru Lee Teng-hui menyebutkan “Pulau Diaoyu bukan milik Taiwan”, akan tetapi saat Lee Teng-hui dalam masa jabatannya menyerukan kedaulatan, pernah memprogramkan pulau Diaoyu menjadi bagian daerah kabupaten Yilan, Yuan Eksekutif juga mencanangkan agar pulau Diaoyu sebagai titik awal laut teritorial dan garis perairan luar, perkataan yang diujarkan Lee Teng-hui saat ini dengan tindakannya di masa lalu sangatlah bertentangan, isi buku barunya mengenai penjelasan insiden pulau Diaoyu terdapat banyak unsur kesalahan.