(Taiwan, ROC) - Presiden Republik Tiongkok (ROC), Ma Ying-jeou, pada hari Kamis tanggal 21 Januari ketika menghadiri dalam forum ekonomi (Commonwealth Economic Forum / CWEF) menyampaikan, selama 8 tahun pemerintah telah mencanangkan peta kebijakan ekonomi biru, membuang kebijakan isolasi dari pemerintahan sebelummya, mengunakan tindakan membuka diri dengan kebijakan kebebasan ekonomi, meneruskan upaya penandatanganan kerja sama ekonomi dan perjanjian investasi bilateral dengan Daratan Tiongkok, Jepang, Singapura, Selandia Baru, yang semuannya ini untuk membuka pasar dan jalan keluar bagi produk Taiwan.
Presiden menegaskan, “buka” merupakan jalan yang harus dijalani perekonomian Taiwan, apalagi kerja sama ekonomi kawasan, global, wilayah benua Asia terus berkembang, bahkan pada akhir tahun lalu secara resmi telah terbentuk ASEAN Economic Community (AEC), Perjanjian Kemitraan Trans Pasifik (TPP) juga diharap dapat selesai ditandatangani pada bulan Februari ini, kerja sama Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) diharapkan juga dapat ditandatangani tahun ini.
Kepala negara menekankan, meskipun tingkat kesulitan untuk bergabung dalam TPP, RCEP dan kerja sama ekonomi kawasan lainnya sangat tinggi, tetapi ini sangat penting bagi perkembangan ekonomi Taiwan, dalam kamus nya tidak ada kata “mengamati”, semasa jabatannya harus mengupayakan sekuat tenaga untuk dapat bergabung.
Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Kami harus berupaya sekuat tenaga untuk turut bergabung, pada kesempatan ini saya ingin melaporkan pada anda semua, masa bakti saya masih 4 bulan, tidak berarti hanya sisa 4 bulan, dalam kamus saya tidak ada kata “menunggu”, tidak ada kata “kendur”, pemerintah pasti akan berupaya sekuat tenaga untuk bergabung, dikerjakan hingga 19 Mei, anda semua tidak perlu khawatir.”
Pemimpin negara mengatakan, untuk mempertahankan kestabilan dan pertumbuhan ekonomi harus memiliki lingkungan politik yang damai, apabila mengabaikan pilihan pasar Daratan Tiongkok, ini bukan saja kesalahan kecil, tapi merupakan hal yang “fatal”. Beliau menegaskan, selama 8 tahun ini, pemerintah dengan dasar “Konsensus 92” mempertahankan situasi dan perdamaian antar selat Taiwan. Pertemuan “Ma dan Xi” telah menjadi sebuah jembatan perdamaian antar selat Taiwan, presiden baru hanya perlu mematuhi peraturan “Konsensus 92 – Satu Tiongkok dengan Persepsi Masing-masing” saja sudah dapat melewati perdamaian dan mempertahankan situasi perdamaian yang ada.