(Taiwan-ROC) Presiden Republik Tiongkok, Ma Ying-jeou hari Jumat (15/1) bertemu dengan ketua Lembaga Budaya dan Politik Perempuan Korea, yang sekaligus menjadi Ketua Dewan Perempuan Internasional, Kim Jung Sook untuk membicarakan isu Jugun Ianfu. Presiden Ma menyampaikan, nenek Siao Tao yang sudah sejak dulu beliau prihatinkan meninggal beberapa hari lalu, saat mudanya, selagi nenek Siao Tao berangkat ke sekolah, ia ditangkap polisi Jepang untuk dijadikan Jugun Ianfu, 70 tahun berlalu, ia tetap merasa sedih. Membicarakan kisah sedih nenek Siao Tao membuat presiden menarik nafas dalam-dalam dan matanya menjadi merah.
Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Selama beberapa tahun ini melihatnya semakin hari semakin tua, saya sangat sedih, ia lebih mudah satu tahun dari ibu saya, jadi melihatnya seperti melihat orang tua, tidak disangka ia telah pergi, tidak bisa menunggu sampai Jepang minta maaf.
Kepala negara mendeskripsikan dalam film documenter Jugun Ianfu “Song of the Reed” juga menceritakan nenek Siao Tao, menekankan sungguh tidak adil kalau tidak dapat membantu merehabilitasikan kaum Jugun Ianfu.
Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Di dalamnya menceritakan saat nenek Siao Tao di usia 24 tahun kembali ke Taiwan, ternyata saat itu ia diusir oleh pamannya, dan mengatakan, kita marga chen mana mungkin ada orang yang seperti kamu, sambil menangis ia mengatakan ‘paman ini bukan keinginan saya’, maka dari itu saya merasa tidak adil jika kita tidak membantu merehabilitas orang-orang sepertinya.
Pemimpin negara mengaskan, di Taiwan ada sekitar 1200 orang Jugun Ianfu, jumlahnya tidak sebanyak di Korea, tetapi beliau merasa jumlah bukanlah masalah, yang menjadi masalah adalah hak asasi dan perikemanusiaan. Beliau menekankan, Jugun Ianfu Taiwan dan Korea sama, saat itu dengan paksa dijadikan jugun ianfu, mereka adalah warga Jepang, sebuah negara tidak boleh memperlakukan kebebasan seperti itu. Presiden mengemukakan, ia sangat berterima kasih dan salut dengan Jugun Ianfu Korea yang pada tahun 1991 menegakkan badan, saat itu memberontak melawan tentara Jepang, dengan demikian hal ini baru mendapat perhatian dari dunia internasional.