(Taiwan, ROC) – Bursa Saham Tiongkok selama kurun waktu 4 hari di awal tahun baru, mengalami ‘Pemutusan Sirkuit’ sebanyak 2 kali. Pada hari Kamis tanggal 7 Januari pagi hari, indeks CSI jatuh sebanyak 5,38%, sehingga transaksi dihentikan selama 15 menit baru dilanjutkan kembali. Namun selang beberapa menit kemudian kembali jatuh sebanyak 7%, mencapai batasan sistim ‘pemutusan sirkuit’ transaksi, sehingga bursa saham CSI segera ditutup sebelum jam 10 pagi.
Dengan jatuhnya bursa saham Tiongkok, juga memberikan dampak negatif terhadap perkembangan bursa saham di kawasan Asia. Bursa saham Taiwan sendiri turun sebanyak 138,33 poin, mencapai angka 7.852,06 poin, dengan prosentase penurunan sebesar 1,73%, dengan jumlah transaksi senilai NT$ 116,77 milyar.
Sekretaris pelaksana Dana Sekuritas Nasional, Wu Tang-chieh menjelaskan bahwa pihak DSN akan masuk ke dalam bursa saham jika dibutuhkan untuk menstabilkan indeks saham yang ada.
Menteri Keuangan, Cheng Sheng-ford dalam jumpa pers yang diselenggarakan di Yuan Eksekutif memaparkan bahwa DSN akan masuk ke dalam bursa saham dan memainkan peran yang semestinya dilakukan, namun pihaknya tidak dapat membocorkan rahasia mengenai jumlah nilai dana yang akan masuk ke dalamnya. Chang menjelaskan bahwa banyak bursa saham dunia yang mengalami penurunan secara drastis akibat pengaruh perekonomian global yang buruk.
Chang Sheng-ford mengatakan, “Kejatuhan ini boleh dikatakan sebagai jatuhnya bursa saham global, demikian juga dengan kondisi dalam negeri, Dana Sekuritas Nasional pasti akan terus melakukan pemantauan. Dan dapat dipastikan akan dilaksanakan, mengingat situasi saham hari ini tidak baik, dan kejatuhan saham dalam negeri kali ini telah mencapai batasan indeks saat Dana Sekuritas Nasional terakhir kalinya masuk dan menolong indeks bursa saham Taiwan.”
Selain itu, Chang juga menambahkan bahwa nilai ekspor bulan Desember tahun lalu mengalami penurunan pertumbuhan hingga mencapai dua digit. Hal ini disebabkan karena merosotnya harga minyak dunia dan jumlah penjualan gadget iphone 6S yang tidak sesuai dengan yang diprediksikan, sehingga memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi perusahaan terkait lainnya di dalam negeri.
Namun banyak instansi perekonomian internasional yang memprediksikan bahwa iklim ekonomi tahun ini akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Tetapi masih tetap harus memperhatikan situasi perkembangan Korea Utara dan situasi di Timur Tengah.