(Taiwan, ROC) – Presiden Ma Ying-jeou pada hari Kamis tanggal 7 Januari saat menerima kunjungan pejabat penting dari The Gideon International, memaparkan bahwa berdasarkan data statistik dari Kementrian Dalam Negeri, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Taiwan pada tahun 2015, mencatat rekor lebih dari 10 juta orang. Jika dibandingkan dengan satu tahun sebelum dirinya menjabat sebagai presiden, berhasil naik sebanyak tiga kali lipat. Ma beranggapan bahwa angka kenaikan ini berhubungan erat dengan semakin terbukanya pintu negara dan juga program perdamaian yang ada, sehingga turut merubah citra negara di panggung dunia internasional.
Presiden Ma mengatakan, “Perbuatan benar yang manakah yang telah kita perbuat? Biarlah kita sendiri yang mengevaluasinya. Yang pertama, adalah program pembukaan pintu politik, program politik yang manusiawi dan damai, sehingga dapat memberikan pengaruh yang menyeluruh bagi negara. Dengan adanya perdamaian antar selat, mereka tidak lagi melihat wilayah ini sebagai lokasi perang, sehingga semua orang berkeinginan dan dapat berwisata ke Taiwan.”
Presiden menjelaskan bahwa sebelumnya ada pihak yang menyudutkan dirinya sebagai seorang provokator yang membuat resah situasi dalam negeri Taiwan. Tetapi jika menilik jumlah wisatawan yang masuk berkunjung ke Taiwan pada tahun lalu, yang mencapai lebih dari 13 juta orang, maka terlihat kerancuan penuduhan yang diberikan kepadanya. Karena jumlah 13 juta wisatawan tersebut adalah setengah dari jumlah total populasi Taiwan sendiri. Untuk itu, apakah yang memberikan tuduhan dapat disebut sebagai mereka yang tidak memiliki pemikiran sama sekali? Ma menjelaskan jika semua kebenaran akan terlihat pada akhirnya.
Ma juga mengetengahkan bahwa sejak dirinya menjabat sebagai presiden, situasi perekonomian memang tidak dalam keadaan yang baik, bahkan hingga saat ini. Terlebih-lebih setelah ditambah lagi dengan adanya resesi perekonomian dunia secara global, jatuhnya sistim perekonomian di kawasan Eropa dan juga memburuknya nilai ekspor Taiwan. Semua negara menghadapi hal yang sama, dan semua pihak juga membutuhkan waktu perbaikan yang cukup untuk kembali menjadi ‘sehat’ seperti semula.