(Taiwan, ROC) – Hari ini (6/1) pembahasan tekhnis perdagangan komoditi antar selat kembali digelar di Beijing, Daratan Tiongkok. Kendati agenda ini mendapat pertentangan dari beberapa partai oposisi, namun dari kalangan pengusaha menilai bahwa pembahasan tekhnis sudah dilakukan sesuai dengan waktunya dan berharap dapat tercapai kesepakatan.
Kementerian Ekonomi kemarin (5/1) menyampaikan agenda pertemuan teknis akan diselenggarakan sore tanggal 6 Desember di Beijing, Daratan Tiongkok, delegasi Taiwan dipimpin oleh Direktur Jenderal Biro Pengembangan Industri (IDB) Wu Ming-ji (吳明機) akan berdialog dengan pihak Daratan Tiongkok berkaitan dengan 4 industri mayor, keringangan pajak Usaha Menengah Kebawah, sehingga perbedaan kedua belah pihak dapat semakin kecil.
Pihak partai oposisi yang mengkritik bahwa pertemuan ini dinilai terlalu mendadak. Namun hal itu ditepis oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Nasional ROC, Tsai Lien-seng (蔡練生). Ia menyampaikan : Saya pribadi merasa bukan karena mendekati pemilu, maka pihak Daratan Tiongkok menunjukan sikap baiknya, karena pada dasarnya masih sedang terus berlangsung, karea masih ada masalah yang belum diselesaikan, termasuk produk yang dilarang oleh Daratan Tiongkok apakah sudah boleh diimpor, termasuk hal-hal yang menjadi perhatian kami, apakah Daratan Tiongkok bersedia memasukannya kedalam Perjanjian Komoditi.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Sekjen Asosiasi Industri Elektronik Luo Huai-jia (羅懷家), Ia menyampaikan : Untuk produk panel masih terhadang, kami berharap saat pembahasan antar selat, pajak produk panel seharusnya dapat dihilangkan.
Tsai Lien-seng juga menyampaikan, Daratan Tiongkok dan Korea Selatan telah menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA), dengan situasi seperti itu, produk petrokimia Korsel yang masuk ke Daratan Tiongkok bebas bea pajak, namun Taiwan masih tetap dikenakan bea pajak 5~6%, bila Perjanjian Perdagangan Komoditi tidak segera ditandatangani maka Taiwan akan kehilangan daya saing di pasar Daratan Tiongkok dan porsinya akan diberikan kepada Korsel. Demi menghindari bea pajak maka memaksa pengusaha Taiwan untuk membangun pabrik disana, dengan demikian masalah industri di Taiwan akan semakin buruk.