(Taiwan, ROC) - Presiden Ma Ying-jeou pada hari Jumat tanggal 18 Desember, menghadiri seminar dengan mahasiswa Universitas Nasional Teknologi Taipei atau NTUT. Berkaitan dengan kebijakan sumber energi, Presiden Ma kembali menekankan, Taiwan tidak akan secara mudah meniadakan sumber energi jenis apapun, jika demikian maka akan menghadapi masalah kekurangan daya listrik. Di samping itu, ada mahasiswa yang mempertanyakan masalah pelonggaran terhadap warga Daratan Tiongkok, Presiden Ma merespon, hal terkait akan dilakukan upaya tindak lanjut.
Presiden Ma sangat memperhatikan masalah sumber energi, dalam seminar tersebut, lebih difokuskan pada sasaran dan pelaksanaan pemerintah dalam menciptakan lingkungan rendah karbon. Presiden mengemukakan, sementara ini sebagian besar pembangkit listrik Taiwan cenderung menggunakan batubara dan gas alam, proporsi energi terbarukan masih belum tinggi, walaupun pemerintah giat meningkatkan penggunaan energi terbarukan, namun masih menghadapi kondisi tidak terduga, sehingga diperlukan langkah pendukung yang lebih mantap.
Presiden mengambil contoh negara Jepang, di Jepang meniadakan penggunaan energi nuklir, akan tetapi tidak mampu menghadapi biaya besar ekspor gas alam, pada akhirnya kembali dengan penggunaan energi nuklir, dalam hal ini Beliau beranggapan Taiwan juga tidak akan secara mudah untuk melepas sumber energy apapun.
Presiden Ma mengatakan, “Mengapa Jepang pada mulanya melepas semua penggunaan energi nuklir kemudian kembali menggunakan nuklir? Secara jelas terlihat perubahan yang tidak mampu diterima. Dikarenakan defisit perdagangan skala besar, harga listrik juga naik. Ada yang mengatakan defisit perdagangan dikarenakan devaluasi yuan, sebenarnya adalah sebaliknya, dikarenakan 2 hari sebelum devaluasi yuan telah dilakukan impor gas alam dalam jumlah besar. Dalam hal ini bagi kita, kita semestinya tidak dengan mudah melepas segala sumber energi, jika tidak maka akan menghadapi masalah kekurangan daya listrik.”
Saat seminar Presiden Ma secara langsung juga mengamati pendapat dari pelajar, hasil yang didata dari sejumlah lebih dari 100 pelajar yang ikut menghadiri seminar, hanya ada 3 orang yang menyetujui diprioritaskan peniadaan nuklir, selebihnya beranggapan seharusnya rendah karbon yang lebih diutamakan.
Selain itu, ada mahasiswa yang mengangkat perihal perusahaan Daratan Tiongkok Tsinghua Unigroup berencana melakukan investasi industri semikonduktor Taiwan. Presiden Ma mengatakan, Taiwan telah membuka investasi bagi Daratan Tiongkok lebih dari setengah tahun, namun untuk jenis industri dibatasi. Wamenko Shen Jong-chin mengatakan, komisi investasi, MOEA akan menindaklanjuti, akan mempertimbangkan segala aspek mencakup stabilitas nasional, tenaga trampil, dana investasi dan teknologi. Presiden Ma menekankan, selain kementerian terkait, unit dari Dewan Keamanan Nasional akan turut meninjau ada-tidaknya pengaruh terhadap stabilitas nasional, hingga saat ini untuk mekanisme tindak lanjut dianggap cukup lengkap dan baik.
Dalam seminar hadir pula siswa asing dari negara bersahabat diantaranya Paraguay dan Saint Vincent, ada yang mempertanyakan seberapa tinggi rasa kepedulian dari Presiden Ma. Presiden Ma mengatakan, sebagai pemimpin, bukan menjadi pokok berita di hari berikutnya, melainkan rasa peduli yang perlu ditekankan adalah dalam hal mensejahterakan rakyat. Dalam seminar tampak para mahasiswa sangat antusias untuk mengajukan pertanyaan, hingga waktu acara diperpanjang, Presiden Ma terlihat berupaya untuk menjawab semua pertanyaan dari setiap pelajar.