(Taiwan, ROC) – 15 Desember yang lalu, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan, sebelum penyampaian penjualan senjata dan pengalihan urusan senjata dilakukan, Kemlu tidak akan memberikan penjelasan lebih lanjut.
Disampaikan oleh Bloomberg, diperkirakan paling cepat 17 Desember penjualan senjata AS ke Taiwan mencapai 1,83 miliar dolar AS. Dalam surat elektronik dari juru bicara Kemlu AS menjawab pertanyaan dari wartawan disebutkan, tidak mengkonfirmasikan atau menyangkal pemberitaan terkait hanya menegaskan sikap AS yaitu sebelum melaporkan ke parlemen, kemlu tidak akan memberikan respon soal penjualan dan pengalihan senjata.
Pemberitaan itu mengutip keterangan dari pejabat Kemlu AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan, bahwa transaksi peralatan senjata yang sudah tertunda 4 tahun termasuk Oliver Hazard Perry class frigate, Assault Amphibious Vehicle, Peluru kendali anti-tank dan FIM-92 Stinger. Dalam laporan sebelumnya disampaikan, daftar transaksi ini termasuk Helikopter Apache, sebelumnya total transaksi mencapai 1 miliar dolar AS. Dalam pemberitaan Bloomberg menjelaskan, harapan Taiwan mendapatkan kapal selam dan pesawat tempur tidak tertera dalam daftar pembelian kali ini.
Instansi yang terlibat dalam transaksi senjata ke Taiwan kali ini cukup luas, di bagian administrasi, Bureau of Political-Military Affairs menjadi instansi terpenting karena menjembatani dan koordinator antara Kementerian Pertahanan, Komisi Pertahanan Gedung Putih dan parlemen, kemudian Biro terkait akan menyampaikan secara resmi kepada instansi legislatif.
Menurut pengamatan pakar, setelah pertemuan Konfrensi Paris adalah waktu yang tepat bagi presiden Obama mengumumkan penjualan senjata ke Taiwan. Minggu ini adalah kesempatan terkahir bagi lembaga admnistrasi menyampaikan kepada badan legisaltif. Mulai tanggal 19 Desember nanti seluruh Amerika akan memasuki liburan Natal dan akan mulai rapat lagi tahun depan, dimana saat itu Taiwan sudah mendekati masa-masa PilPres.