(Taiwan-ROC) – Terhadap pengaruh penurunan ekspor Taiwan, Institut Penelitian Taiwan (TRI), pada hari Jumat, 11 Desember, merubah angka pertumbuhan ekonomi menjadi 0,98%, turun 2,37 poin dibanding yang diumumkan pada bulan Juni lalu, 3,35%. Namun TRI menjelaskan, sejalan dengan perbaikan ekonomi dalam negeri, perekonomian Taiwan akan kembali bangkit dan diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan sekitar 2,06%
TRI menjelaskan, selain akibat perdagangan diseluruh dunia yang melemah, menurunnya pasar ekspor utama Taiwan, ditambah perkembangan rantai pasokan otonom Daratan Tiongkok, sehingga mempengaruhi ekspor Taiwan. Hal ini menyebabkan badan penelitian lainnya, seperti Institut Penelitian Ekonomi Republik Tiongkok (CIER) dan Institut Penelitian Ekonomi Taiwan (TIER), juga sulit menuliskan angka 1 dalam perhitungannya. Ditambah dengan tingkat konsumen masyarakat yang menjadi lebih konservatif, serta pertumbuhan permintaan dalam negeri yang tidak sesuai dengan perkiraan. Inilah yang menyebabkan, perkiraan pertumbuhan ekonomi 1 tahun menjadi 0,98%.
Presiden TRI, Wu Tsai-yi (吳再益) menegaskan, untuk mempertahankan nilai 1 tahun ini, sangat sulit, dan juga sulit untuk dicapai. Wu Tsai-yi mengatakan, “Masyarakat terus mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 1%, menurut saya mungkin akan sulit dipertahankan, menurut saya sulit untuk dicapai, namun standar untuk tidak mencapai hal tersebut tidak begitu besar, intinya tahun depan dapat mencapai 2,06%, harus bergantung pada kebutuhan domestik dan luar negeri, menurut saya permintaan dalam dan luar negeri sangat penting.”
TRI juga memperkirakan, sebaiknya tahun depan dimulai dengan memperbaiki perekonomian negeri kembali ke jalurnya, sehingga dapat membangkitkan perekonomian Taiwan. Untuk ekspor, paling cepat sekitar akhir kuartal pertama hingga awal kuartal kedua dapat kembali meningkat. Sehingga angka perdagangan tahun depan diperkirakan akan kembali bangkit pada paruh awal tahun depan, dan diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan mencapai 2,06%.
Namun TRI juga mengatakan, dikarenakan banyak ketidakpastiaan pada tahun 2016 mendatang, termasuk peningkatan suku bunga Amerika yang dapat mempengaruhi ekonomi negara-negara berkembang, nilai mata uang tiap negara, gerakan terorisme seluruh dunia, perjanjian perdagangan bebas Daratan Tiongkok-Korea Selatan, pemilihan Presiden yang mempengaruhi hubungan antar selat dan lain-lain, yang pastinya dapat mempengaruhi perekonomian Taiwan tahun mendatang.