(Taiwan-ROC) Hari ini, tanggal 10 Desember merupakan hari Hak Asasi Manusia Dunia(HAM), “Kegiatan memperingati Hari HAM Dunia 2015” yang disponsori Museum HAM Nasional, diselenggarakan di Zhongshan Hall dan Jingmei HAM Culture Park. Presiden Republik Tiongkok (ROC), Ma Ying-jeou dalam kata sambutannya menyampaikan, hari ini juga merupakan hari peringatan ke 67 tahun diloloskannya “Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia” oleh Majelis Umum PBB, untuk itu beliau dengan khidmat menghadiri peringatan bagi para korban perjuangan demokrasi politik dan hak asasi manusia di Taiwan.
Kepala Negara mengatakan, melindungi HAM merupakan tugas penting pemerintah, setelah ia menjabat sebagai presiden, telah menyetujui memasukan “Konvensi tentang Hak Sipil dan Politik” dan “Konvensi Sosial Ekonomi dan Budaya” dalam hukum nasional. Terkait dengan insiden terror putih 28 Februari, pemerintah juga telah melakukan serangkaian tindakan yang diharapkan korban dan keluarga korban dapat terhibur.
Pemimpin negara mengemukakan, timbulnya kekerasan nasional di banyak negara, termasuk juga Taiwan, yang kebanyakan menjadi unsur timbulnya peperangan, ini merupakan salah satu alasan utama mengapa ia berupaya keras memperbaiki hubungan antar selat Taiwan dan dengan negara-negara disekitar, hanya dengan perdamaian barulah dapat mencegah timbulnya kekerasan. Presiden menekankan, menghadapi kekerasan nasional yang mengoreskan luka, satu-satunya cara adalah menghadapi kenyataan yang ada, dengan menempatkan dan memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri, dengan demikian baru dapat menyembuhkan luka sejarah.
Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Kekerasan yang digunakan baik dalam meneggakkan hukum maupun bukan, ini semua memberikan luka yang dalam bagi masyarakat. Saya selalu menganjukan, menghadapi sejarah ini dengan “Ini adalah fakta yang ada, harus membedakan dengan jelas antara terima kasih dan kemarahan” , sudah seharusnya menghadapi keluarga korban dengan “menempatkan diri dan melihat dari posisi yang bersangkutan”, dengan cara seperti ini baru dapat menyembuhkan luka sejarah dan baru dapat melangkah maju”
Presiden Ma Ying-jeou hari Kamis (10/12) yang juga hadir dalam “Penghargaan Demokrasi dan HAM Asia ke 10” yang mana Yayasan Demokrasi Taiwan akan memberikan penghargaan pada Sunita Danuwar, pendiri Lembaga Sosial Masyarakat Pencegahan Perdagangan Manusia “Shakti Samuha” Nepal, atas kerja keras dan sumbangsih lembaga ini dalam upaya mencegah perdagangan anak dan kaum perempuan.
Dalam kata sambutan penyerahan penghargaan, Presiden Ma Ying-jeou menyampaikan, Taiwan seharusnya belajar dari Sunita Danuwar, yang melalu kerja sama internasional dapat mencegah kejahatan perdagangan manusia.
Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Republik Tingkok bersedia bekerja sama dengan dunia internasional, berupaya keras untuk menghancurkan sindikat dan mencegah timbulnya perdagangan manusia, masalahnya adalah peradaban manusia, kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi
Presiden Ma menegaskan, upaya Taiwan dalam hal pencegahan perdagangan manusia dan perlindungan anak mendapat keyakinan dari masyarakat internasional, namum selama ini masih saja ada orang yang mendapatkan penghargaan terkait, ini menandakan masalah ini masih belum tuntas, untuk itu masih harus terus berupaya. Presiden menyampaikan, setelah beliau menjabat sebagai presiden, telah 8 kali turut dalam upacara penghargaan “Demokrasi dan HAM Asia”, ini membuktikan kepedulian ROC pada HAM.