(Taiwan, ROC) – Malam penganugrahan penghargaan untuk Golden Horse Award yang ke 52 tahun akan digelar pada hari Sabtu tanggal 21 November. Penganugrahan penghargaan bidang perfilman tahun ini kembali menjadi ajang perebutan siapa gerangan yang akan dinobatkan sebagai pemeran utama wanita terbaik. Sylvia Chang adalam film terbarunya yang berjudul “Office” memainkan peran sebagai seorang wanita yang berkarir sukses, namun kehidupan cintanya selalu dikelilingi oleh banyak pria dari latar belakang usia yang berbeda. Penampilannya dalam film tersebut tentu tidak perlu diragukan kembali, Sylvia Chang kembali membuktikan kepiawaiannya dalam dunia acting. Tahun ini adalah tahun kembalinya Sylvia Chang dalam persaingan pemeran utama wanita terbaik Golden Horse Award setelah berhenti selama 29 tahun.
Su Qui yang menjadi pemeran utama wanita sebagai pembunuh bayaran dalam film “The Assassin” karya sutradara Hou Hsiao-hsien, dalam tokoh yang diperankannya itu memang tidak membutuhkan dirinya untuk banyak berbicara, bahkan dari wajahnya saja tidak membutuhkan terlampau banyak tampilan emosi jiwa. Tetapi Su Qui justru mengandalakan “Kedinginan” tatapan mata, tekanan batin yang diharuskan untuk selalu hidup sendiri sebagai seorang pembunuh bayaran, ditambah lagi dengan kemahirannya dalam berakting bela diri, memberikan dirinya kesempatan yang ke dua kali dalam merebut penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik.
Su Qui mengatakan, “Kamu harus membuat diri sendiri seakan-akan berada di dalam lingkungan yang terisolasikan, serba sendirian. Dalam tampilan teknik bela diri, kamu juga harus mampu mengendalikan sikap dingin. Selain itu juga tidak sedikit harus mendapat pukulan telak di bagian kepala oleh aktor lainnya, Chang Cheng. Tetapi kamu masih harus memainkan peran penting tersebut, semuanya hanya dapat diekspresikan lewat tatapan mata, ini benar-benar b ukan hal yang mudah. ”
Walau harus sama-sama bersikap dingin dan tertekan, Lin Jia-xin dalam film “Zinnia Flower”, harus mengekspresikannya melalui cara yang berbeda. Lin sendiri memainkan peran sebagai seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh tunangannya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan. Lin harus memainkan peran sebagai wanita yang hidup bagaikan manusia yang berbatinkan bom waktu, yang dapat meledak di setiap saat. Akting Lin Jia-xin memang menyita banyak sorotan publik, terlebih-lebih peran tersebut kerap dekat dengan kehidupan sehari-hari seorang manusia.