(Taiwan-ROC) – Terhadap perluasan stasiun pemantau polusi udara kendaraan bermotor agar memudahkan masyarakat untuk mengontrol kualitas udara perkotaan yang diserukan oleh anggota dewan legislatif, Dirjen Pengawasan Lingkungan dan Manajemen Informasi, Tsai Hong-de (蔡鴻德), pada tanggal 13 November mengatakan, pembangunan stasiun ini membutuhkan kerjasama dengan aturan lalu lintas dari pemerintah daerah dan saat ini baru Taichung yang menyetujuinya. Menurut Tsai, Administrasi Pelestarian Lingkungan (EPA) saat ini sedang merencanakan penyediaan alat detector PM2,5 dan berharap dengan modal yang lebih sedikit namun mencapai target yang diinginkan.
Dalam memasukki musim gugur ini, kualitas udara di Taiwan semakin memburuk. Hal ini diperkuat hasil penyelidikan badan terkait bahwa kebanyakkan polusi udara datang industri maupun kendaraan bermotor dari dalam negeri sendiri. Terhadap hal ini, anggota dewan legislative dari Partai Progresif Demokrat (DPP), Liu Chien-kuo (劉建國), pada tanggal 13 November mengatakan, dia akan mengusulkan Revisi Undang-Undang Pengontrolan Polusi Udara. Berharap dengan hal ini bisa mengatur stasiun pemantau dibawah hukum sehingga dapat melindungi kota-kota yang tidak memiliki stasiun pemantau.
Kepala Aliansi Udara Sehat Taiwan, Yeh Guang-peng (葉光芃) mengatakan, walaupun daerah selatan Taoyuan hingga Kaohsiung bagian utara dipadati sekitar puluhan juta penduduk, namun sama sekali tidak memiliki stasiun pemantau polusi udara kendaraan bermotor. Selain itu dia juga mengkritik pemerintah pusat sepertinya mengabaikan kepentingan masyarakat untuk bernapas. Dokter Kandungan Rumah Sakit Wanfang, Yang Peng-sheng (楊鵬生) mengatakan, polusi udara dapat mengganggu kesuburan manusia, oleh karena itu, polusi juga merupakan masalah keamanan nasional. Yang Pen-sheng mengatakan, “Hasil laporan polusi udara belakangan ini menunjukkan, bisa menyebabkan mioma uteri (tumor Rahim). Polusi udara yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor dapat menurunnya kesuburan seseorang. Selain itu, sebelumnya juga pernah ada penelitian bahwa polusi udara dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan menurunnya aktifitas sel sperma.”
Terhadap masukkan untuk perluasan stasiun pemantau polusi udara, Dirjen Pengawasan Lingkungan dan Manajemen Informasi, Tsai Hong-de mengatakan, EPA sebelumnya pernah mengumpulkan dan rapat dengan pemerintah setempat untuk membahas hal ini dan menurutnya hal ini harus sejalan dengan aturan kendaraan bermotor barulah berguna, dan saat ini baru pemerintah kota Taichung yang sependapat dengan kami. Tsai mengatakan, “Karena anda harus mengatur kendaraan bermotor. Anda hanya mengatakan disini angkanya sangat tinggi, lalu bagaimana, oleh karena itu harus bersamaan dengan rambu lalu lintas, selisih waktu atau menyarankan kepada orang-orang bahwa disini sangat tinggi jadi jangan masuk. Seperti ini baru ada artinya, baru bisa menjamin masyarakat setempat.”
Tsai mengatakan, EPA perlahan-lahan akan memasang detektor PM 2,5 yang dipasang ditangan dikarenakan ukurannya yang cukup kecil dan harganya yang murah sehingga dapat dipasang diratusan titik ramai lalu lintas agar dapat memantau kualitas udara skala kecil. Selain itu dia juga merencanakan setengah hingga satu tahun kedepan, alat ini sudah dapat dipakai diseluruh Taiwan.