(Taiwan-ROC) Presiden Republik Tiongkok, Ma Ying-jeou hari Jumat (13/11) ketika hadir dalam kegiatan ulang tahun ke 60 tahun Pusat Produktivitas Taiwan (China Productivity Center) menyampaikan, menghadapi era re-strukturisasi ekonomi global, Taiwan harus meningkatkan daya saing, untuk berbalik kembali meraih keunggulan, merupakan tantangan yang sangat berat, tetapi hal ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Kepala negara kembali menegaskan pentingnya bergabung dalam organisasi ekonomi kawasan dan internasional, menyampaikan dalam 2 tahun ini akan sepenuhnya berupaya agar dapat bergabung dalam Kemitraan Trans Pasifik (TPP).
Presiden Ma Ying-jeou pada tanggal 13 pagi hadir dalam kegiatan memperingati “Hari Ulang Tahun ke 60 Pusat Produktivitas Taiwan (China Productivity Center)” mengungkapkan, sekarang ini Taiwan tengah menghadapi re-strukturisasi ekonomi global, untuk ekspor dan restrukturisasi industri menghadapi tantangan besar, tetapi pada dasarnya daya saing industri Taiwan tidak lemah, sebelumnya pemerintah sempat mencanangkan berbagai kebijakan untuk menopang agar dapat melalui badai angin yang datang.
Kepala Negara mengemukakan, meskipun keberhasilan masa lalu tidak dapat menjamin keberhasilan masa mendatang, untuk beralih juga tidak begitu mudah, tetapi sudah pasti “tidak ada hal yang tidak mungkin”. Pemimpin Negara membeberkan, penandatanganan perjanjian “Kemitraan Ekonomi Taiwan-Singapura” dan “Kemitraan Ekonomi Taiwan-Selandia Baru” menunjukkan Taiwan memiliki kemampuan untuk bergabung dalam perjanjian perdagangan bebas, dua tahun berikutnya akan berupaya sekuat tenaga meraih kesempatan bergabung dengan Kemitraan Trans Pasifik (Trans Pacific Partnership / TPP) dan Kemitraan Ekonomi Konferhensif Regional (Regional Conprehensive Economic Parnership / RCEP).
Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Gabungan dari kedua ini menjadi 28 negara, dikurangi dengan yang double sebanyak 7 negara, perdagangan kita mencakup 70%, coba anda pikirkan, ini merupakan angka yang tidak dapat kita abaikan. Selain itu kita dengan yang kecil ini bisa membuka ekonomi secara keseluruhan, 70% pertumbuhan PDB kami bergantung pada perdagangan luar negeri, untuk itu dapat dikatakan bergabung masuk merupkan keharusan, jika tidak, akan sulit untuk tetap berpijak dalam kawasan regional apalagi global, untuk itu dalam 2 tahun berikutnya kami akan berupaya keras agar dapat turut bergabung.”
Presiden menjabarkan, pada masa tsunami ekonomi global, pemerintah mencanangkan “3 Kebijakan Penompang”, mengeluarkan kupon belanja untuk memperbaiki ekonomi yang lesu, semua ini merupakan upaya mengantisipasi krisis ekonomi, menunjukkan kemampunan menghadapi krisis di masa lalu, di masa mendatang juga masih ada kemungkinan ini.