History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Presiden Ma Anugahkan Medali Penghormatan Sumbangsih Perang Bagi Tionghwa Perantau

  • 11 November, 2015
  • Editor
Presiden Ma Anugahkan Medali Penghormatan Sumbangsih Perang Bagi Tionghwa Perantau
Presiden Ma Anugahkan Medali Penghormatan Sumbangsih Perang Bagi Tionghwa Perantau

        (Taiwan, ROC) – Pemerintah pada tahun ini memperluas program peringatan kesuksesan dalam perang melawan penjajah dan 70 tahun penyerahan kembalinya Taiwan kepada pemerintah Republik Tiongkok, yang menemukan banyak sekali sejarah perang yang tidak diketahui sebelumnya. Presiden Ma Ying-jeou pada hari Rabu tanggal 11 November di Istana Kepresidenan menganugrahkan Medali Penghormatan bagi perwakilan Kelompok Pelayanan Montir Tionghwa Perantau Laut Selatan, atas sumbangsihnya saat perang melawan penjajah. Medali Penghormatan ini menjadi yang ke 10 ribu yang telah dibagikan kepada mereka yang turut serta berjasa dalam perjuangan melawan penjajah. Selain itu, mendinag ayah Presiden, Ma Ho-ling yang juga turut berjasa dalam perang, medali penghormatannya telah dianugrahkan oleh Presiden Ma Ying-jeou saat memperingati hari wafatnya sang ayah, yakni tanggal 1 November lalu di depan altar mendiang sebagai tanda penghormatan.

        Saat menerima kunjungan rombongan Kelompok Pelayanan Montir Tionghwa Perantau Laut Selatan, Ma dalam pidatonya menyampaikan bahwa perjuangan melawan musuh selama 8 tahun berbuah kemenangan, menyelematkan negara dan mengembalikan Taiwan kepada pemerintah Republik Tiongkok. Selain itu, juga memberikan bantuan kepada sekutu sehingga dapat memenangkan perang dunia ke 2. Perkembangan negara usai perang juga memberikan hasil yang gemilang. Semua prestasi yang dicapai, peran serta Tionghwa Perantau tidak diragukan lagi, misalnya sumbangan dana yang diberikan, menjadi seperti dana anggaran perang saat itu.

        Presiden Ma mengatakan, “Ini bukan hanya sekedar kata-kata yang sopan, Tionghwa Perantau sejak masa revolusi membangun negara, menolong negara dalam melawan penjajah, menjadi investasi pembangunan negara, melindungi negara tanah air, semua hal yang terjadi, merupakan peran serta yang sangat penting.”

        Presiden Ma menyebutkan bahwa kelompok tersebut cukup unik dan khusus. Kala itu, terdapat sebanyak 3 ribu Tionghwa Perantau yang bergerak menuju kawasan Yunnan di Daratan Tiongkok. Dengan harus menghadapi resiko keselamatan jiwa, di bawah serangan tentara Jepang, akhirnya berhasil membangun Jalan Burma. Proses pembangunan meninggalkan banyak cerita sejarah yang tidak diketahui oleh umum, misalnya Lee Yue-mei dan Chen Ciao-jen asal Malaysia, yang harus mengenakan pakaian seragam montir pria saat memberikan pelayanan. Presiden Ma menegaskan bahwa semua hal yang dilakukan oleh kelompok ini, merupakan perwujudan sikap tidak mementingkan individual, melainkan berjuang bersama untuk negara. Untuk itu, pemerintah juga harus menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi- tingginya.

Komentar

Terbarumore