(Taiwan, ROC) – Hari Sabtu tanggal 7 November Presiden Ma Ying-jeou bertolak menuju ke Singapura guna menghadiri pertemuan perdana dengan Presiden Daratan Tiongkok. Pertemuan yang digelar pertama kali sejak berpisah selama 66 tahun setelah “Perang Saudara” di tahun 1949. Hal ini menjadi sebuah tonggak sejarah penting bagi pemerintahan Presiden Ma yang selama ini mengupayakan tercapainya pembangunan dan perdamaian antar selat.
Pada masa awal periode pertama kepemimpinan Presiden Ma, dirinya juga telah menyambut kunjungan Kepala Asosiasi Hubungan Antar Selat Taiwan atau ARATS, Chen Yun-lin dari Daratan Tiongkok. Pertemuan tersebut menjadi tonggak sejarah perdamaian pertama yang dilakukan oleh Ma Ying-jeou. Untuk pertemuan Ma-Xi yang digelar pada hari Sabtu tanggal 7 November, menjadi tonggak sejarah perdamaian yang kedua.
Kepedulian Ma Ying-jeou berkenaan dengan pembangunan hubungan antar selat, dianggap oleh khalayak umum sebagai hal berhubungan dengan lingkungan kehidupan, latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang selama ini dilakukannya. Kedua orang tuanya mengungsi dari Daratan Tiongkok saat terjadinya pecah perang antar partai, ke Hong Kong. Selanjutnya seluruh keluarga ikut mengungsi dan akhirnya menetap di Taiwan. Semua kejadian yang dialami oleh keluarga Ma, turut membekas dalam kepribadian Ma sendiri.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika, Ma diangkat menjadi sekretaris bahasa Inggris di Istana Kepresidenan, yang kala itu berada di bawah kepemimpinan almarhum Presiden Chiang Ching-kuo. Pada tahun 1988, Ma Ying-jeou mengemban tugas sebagai Kepala Dewan Riset Pembangunan dan Evaluasi, sembari turut mengemban tugas sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Urusan Daratan Tiongkok (Kini adalah Dewan Urusan Daratan Tiongkok, MAC). Ma Ying-jeou mengenang, saat itu dirinya diminta oleh Wakil Perdana Menteri Shih Chi-yang untuk dapat mengemban tugas yang berhubungan dengan pembentukan sebuah dewan urusan Daratan Tiongkok, yang akhirnya menghasilkan MAC dan Yayasan Pertukaran Antar Selat atau SEF.
Pada bulan Maret 1987, Presiden Chiang Ching-kuo saat itu menanyakan masalah yang dihadapi oleh Ma Ying-jeou saat itu. Ma mengetengahkan adanya pertanyaan dari anggota legislator mengenai harapan para veteran perang untuk dapat kembali ke kampung halamannya. Chiang sembari tersenyum, hanya meminta dirinya bertanya langsung kepada Wakil Sekjen Istana Kepresidenan, Chang Zu-yi. Ternyata baru diketahui jika Chiang Ching-kuo telah memberikan instruksi untuk dapat mencari upaya agar Taiwan dapat membuka pintu kesempatan bagi rakyat Taiwan yang ingin berkunjung ke Daratan Tiongkok.
Saat melakukan penelitian tugas yang diembannya, Ma menjalankannya dengan sangat hati-hati, bahkan membuat laporan yang ditulis dengan tangan. Laporan tersebut tidak diketahui oleh siapapun dan dikunci dalam kotak pengaman yang disegel dengan tulisan “Proyek Ying Kao”.
Nama Proyek Ying Kao sendiri diambil dari sebuah cerita sejarah “Zheng Bo Ke Duan Yu Yan”. Saat itu Zheng Juang-gong rindu dengan ibunya yang tengah menjalani masa pengasingan, Wu Jiang. Zheng sendiri disarankan oleh Ying Kao-shu untuk menggali sebuah terowongan bawah tanah, agar dapat kembali bertemu dengan sang ibu. Saat rombongan kunjungan berada dalam perjalanan dengan pesawat, Ma mengenang jika pertemuan Zheng dengan ibunya dilakukan di terowongan bawah tanah, maka kini dirinya akan bertemu dengan Xi Jin-ping di Singapura.
Melihat daftar riwayat pekerjaan yang dilakukannya selama ini, Ma sempat menjabat sebagai anggota Dewan Reunifikasi, anggota dewan MAC, Wakil Kepala MAC, Juru bicara MAC dan berbagai posisi dalam instansi yang berhubungan dengan urusan Daratan Tiongkok. Sekalipun Ma juga sempat menjabat sebagai Walikota Taipei, hubungan antar selat tetap menjadi salah satu bagian kepeduliannya.
Sejak menjabat sebagai Presiden pada tahun 2008, Ma gencar membangun jalinan hubungan antar selat. Setelah duduk di kursi Presiden selama 5 bulan, Ma segera memulai penjajakan hubungan komunikasi antar selat yang saat itu dilakukan baik oleh SEF dan ARATS. Pada bulan ke 6, penandatanganan kesepahaman penerbangan langsung antar selat dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan memperlonggar program batasan jumlah kunjungan wisatawan asal Daratan Tiongkok ke Taiwan. Hal ini juga turut memberikan kemudahan bagi masyarakat kedua belah pihak dalam melakukan pertukaran informasi.
Setelah adanya kebijakan penerbangan langsung antar selat, pada November 2008, Kepala ARATS, Chen Yun-lin untuk pertama kalinya berkunjung ke Taiwan dan menghadiri kegiatan “Pertemuan Jiang-Chen” yang kedua kalinya di Grand Hotel Taipei, dengan membuahkan 4 pernyataan kesepahaman.
Kunjungan Chen Yun-lin saat itu menjadi topik perbincangan dunia. Pertemuan perdana dengan jabatan sebagai Presiden, Ma Ying-jeou bersama dengan Chen Yun-lin di Taipei Guest House, dilaporkan oleh media Amerika, Washington Post, sebagai sebuah sejarah pendobrakan perwujudan perdamaian antar selat.
Dalam pertemuan tersebut, sekalipun Chen Yun-lin tidak menyapa Ma dengan jabatan Presiden, namun terlihat interaksi yang baik antar kedua belah pihak. Saat Chen Yun-lin mendengarkan pidato Ma Ying-jeou berkenaan dengan upaya perdamaian antar selat, tampak Chen Yun-lin mengganguk dan menyetujui apa yang diuta rakan oleh Ma.
Pertemuan perdana yang hanya berlangsung selama 10 menit, disiarkan secara terbuka untuk umum, dan merupakan sebuah langkah besar interaksi antar instansi yang berkuasa di kedua belah pihak, setelah perpecahan berlangsung selama 59 tahun.
Dalam masa kepemerintahan Ma Ying-jeou, ia sempat mengutarakan pandangan berkenaan dengan perdamaian antar selat dan status-quo, yang terdiri dari “Berada di bawah kerangka Undang-Undang Dasar Republik Tiongkok”, “Konsensus 92, Satu Tiongkok dengan persepsi masing-masing”, “Tidak Reunifikasi, Tidak Merdeka, Tidak Perang”, dan mengimplementasikan pemikiran “Saling tidak mengakui kedaulatan, saling tidak menyangkal hak kepemerintahan”.
Dalam sejarah sering terdengar adanya ‘kebetulan’, tetapi melihat setiap upaya jalinan hubungan antar selat yang tercatat sejak awal hingga sekarang, tampak peran yang dilakukan oleh Presiden Ma Ying-jeou. Ma selain menggunakan jabatan sebagai Presiden untuk bertemu dengan Kepala ARATS, Chen Yun-lin, juga telah mengupayakan 23 nota kesepahaman, menaikkan tingkat instansi komunikasi antar selat, dan selanjutnya adalah pertemuan pimpinan antar selat. Mengutip apa yang sempat disebut oleh Presiden Ma Ying-jeou dalam melihat Pertemuan Ma-Xi kali ini, yakni sebagai sebuah perkembangan bersama seiring dengan perkembangan jaman yang tidak perlu diragukan sama sekali. Apa yang dilakukan oleh Ma Ying-jeou dan Xi Jin-ping, akan terukir dalam catatan sejarah, dan kembali memantulkan apa saja yang sempat dilakukan oleh Presiden Ma Ying-jeou dalam mengupayakan terciptanya perdamaian antar selat.