(Taiwan, ROC) – Konferensi tingkat tinggi APEC akan berlangsung pada tanggal 18 dan 19 November di Filipina, Presiden Ma Ying-jeou meminta mantan Wakil Presiden Vincent Siew Wan-chang untuk memimpin delegasi Republik Tiongkok. Sementara sebelum pertemuan ini, hal yang menjadi sorotan seluruh dunia adalah pertemuan pimpinan antar selat, Menteri Luar Negeri David Lin Yong-lo pada hari Kamis tanggal 5 November dalam rapat interpelasi menyampaikan, Pertemuan Ma-Xi tidak akan mempengaruhi pertemuan APEC, malah Pertemuan Ma-Xi berkemungkinan menjadikan interaksi internasional Republik Tiongkok dalam perhelatan APEC akan berjalan semakin lancar.
David Lin Yong-lo mengatakan, “Sama sekali tidak berpengaruh. Dalam APEC, kami masih tetap berpegang pada rencana yang diambil, mantan wakil presiden Vincent Siew akan mewakili dan memimpin delegasi Taiwan, akan hadir dalam pertemuan tingkat tinggi tahun ini. Dan semestinya akan semakin lancar, ini merupakan bidang multilateral, mengharapkan adanya interaksi dan kerjasama dengan negara-negara penting mencakup Amerika, Jepang, Singapura, Daratan Tiongkok dan negara lainnya.”
David Lin Yong-lo mengatakan, di mata internasional yakin dengan pertemuan Ma-Xi akan membuahkan hasil positif, dan pertemuan kedua pimpinan ini menjadi konsolidasi perdamaian, mempertahankan status quo, menuju ke arah perkembangan yang diharapkan oleh masyarakat, bahkan kongres Amerika dan gedung putih juga berpandangan positif.
David Lin Yung-lek mengatakan, “Penuturan dari kongres Amerika sangat yakin dan berpandangan positif, sementara pandangan Gedung Putih juga menyambut baik perkembangan antar selat yang damai. Ini tidak hanya memberikan keuntungan dalam perdamaian regional di selat Taiwan, juga menjadi perspektif internasional yang terlihat dengan jelas.”
David Lin Yung-lek menyampaikan, pertemuan itu sendiri menandakan perkembangan yang positif, sementara pemerintah telah menegaskan, tidak akan melakukan penandatangan perjanjian kerjasama, tidak adanya pernyataan bersama dan komitmen secara pribadi, baik Amerika Serikat, Jepang maupun Singapura semua memahami perencanaan Republik Tiongkok yang relevan.