(Taiwan, ROC) Meski membayar harga yang menyakitkan, upaya Republik Tiongkok melawan Jepang dalam Perang Dunia II tidak hanya dengan sukses mengekang pasukan Jepang, juga sepenuhnya mengubah perkembangan situasi peperangan di Semudera Pasifik; dan upaya ini tidak hanya telah meraih kepastian internasional, juga merupakan fakta sejarah yang tidak boleh diabaikan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Ma Ying-jeou ketika menyampaikan kata sambutan dalam suatu acara penerbitan buku berjudul “Arwah Perang Abadi” di Taipei, Senin (26/10).
Buku yang diterbitkan oleh Dewan Urusan Veteran (VAC) itu berisi himpunan wawancara bersama 24 tentara veteran yang mengikuti peperangan melawan opresi Jepang pada Perang Dunia II, merupakan suatu catatan sejarah 70 tahun perang melawan Jepang dan juga suatu pengenangan dan penghormatan bagi para tentara dan pahlawan yang mengorbankan diri dalam peperangan tersebut.
Ma memuji upaya perlawanan anti penjajahan Jepang di Tiongkok sepanjang delapan tahun pada Perang Dunia II sebagai faktor utama dikalahkannya pasukan Jepang dan dicapainya perdamaian global usai perang.
Presiden Ma mengatakan, “Profesor Universitas Oxford Rana Mitter dengan adil mengungkapkan 70 tahun setelah terjadinya peperangan, kalau bukan berkat semangat Tiongkok tidak menyerah, tidak berkompromi dan pantang mundur, mana mungkin bisa mengekang pasukan 800 ribu orang yang dianggap sebagai pasukan paling modern di dunia? Kemenangan pasukan aliansi di Eropa dan Asia pada Perang Dunia II berhubungan erat dengan perlawanan melawan Jepang di Tiongkok.”
Ma juga mengemukakan, penjajahan mungkin bisa diampuni, tapi fakta sejarah tidak boleh dilupakan, maka Ma menyerukan VAC untuk menerbitkan lebih banyak buku catatan sejarah seperti ini untuk menonjolkan sumbangan pahlawan perang bagi kemajuan negara.