Seringkali orang mengatakan “tidak ada makan siang yang gratis”, tapi kita masih bisa tawar-menawar harga, menekan harga makanan yang dibeli serendah mungkin, tapi mungkin rasanya jadi tidak enak. Dalam penelitian terbaru Amerika Serikat, mereka yang sering makan di restoran merasa semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli makanannya, semakin nikmat rasa makanan tersebut, bahkan sebenarnya makanan tersebut dapat dibeli dengan harga yang lebih murah.
Universitas Cornell New York, Amerika Serikat melakukan penelitian kebiasaan makan 139 pelanggan dari sebuah restoran prasmanan mewah Italia, dengan sengaja mencantumkan harga menjadi USD4 (sekitar 46 ribu rupiah) atau USD8 (92 ribu rupiah). Respon yang didapatkan dari pelanggan ketika ditanyakan apakah makanannya enak, bagaimana kualitas makanan tersebut dan pertanyaan lainnya. Dari hasil penelitian didapatkan, selisih tingkat kepuasan dari mereka yang membeli makanan dengan harga USD8 dibandingkan dengan mereka yang hanya membayar USD4 sebesar 11% dimana yang membayar dengan harga lebih mahal malah lebih tinggi.
Yang lebih menarik lagi adalah, setelah memenuhi piring dengan makanan, mereka yang hanya membayar USD4 lebih merasa bersalah, karena makan terlalu banyak, padahal jumlah makanan yang dimakan oleh kedua kelompok pelanggan tersebut sama, demikianlah yang disampaikan para pakar peneliti dalam seminar “Eksperimen Biologi 2014” yang diselenggarakan pekan ini.
Pakar beranggapan, orang-orang memiliki kecenderungan adanya keterkaitan antara harga dan kualitas, hal ini mempengaruhi selera mereka.
Seorang professor dari bidang prilaku konsumen, universitas Cornell New York, Brian Wansink menyampaikan, dari penelitian didapati, pengaruh harga terhadap jumlah makanan yang disantap pelanggan tidak terlalu besar, tetapi terhadap perasaan, pengalaman, dan pandangan pelanggan sangat besar pengaruhnya.