(Taiwan, ROC) – Pertemuan pimpinan instansi hubungan antar selat yang ke 4 kalinya, digelar pada hari Rabu tanggal 14 Oktober di Kota Guangzhou, Daratan Tiongkok. Kepala Dewan Urusan Daratan Tiongkok atau MAC, Andrew Hsia, dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa berbagai jenis musyawarah pembahasan sistim yang diberlakukan antar selat selama beberapa tahun terakhir ini, dapat berjalan dengan lancar karena berpegang teguh kepada Konsensus 92, yang telah menjadi sebuah catatan sejarah penting yang patut dijunjung tinggi. Kepala Kantor Urusan Taiwan atau GWYTB, Zhang Zhi-jun(張志軍) menyebutkan bahwa saat ini hubungan antar selat laksana berada di persimpangan jalan. Zhang berpendapat bahwa saat memilih jalan yang akan ditempuh, maka sudah seharusnya berpegang teguh kepada Konsensus 92 dan menolak berbagai jenis upaya memerdekakan diri.
Andrew Hsia mengingatkan tanggal 14 Oktober, 17 tahun silam, saat itu tengah digelar pertemuan “Ku dan Wang” yang ke 2 kali, dan telah mencapai 4 buah kesepakatan bersama antar selat. Hasil kesepakatan merupakan hasil yang dicapai karena didasari oleh kesepahaman yang diambil pada tahun 1992 di Hong Kong, yang kemudian juga dikenal sebagai Konsensus 92.
Andrew Hsia menjelaskan saat itu Daratan Tiongkok mengajukan prinsip “Satu Tiongkok” dalam berbagai jenis negosiasi yang dilakukan. Sementara pihak Taiwan sendiri juga mengajukan prinsip “Satu Tiongkok dengan Persepsi Masing-Masing”. Tanggapan dari Taiwan juga dapat diterima oleh pihak Daratan Tiongkok. Inilah inti kesepakatan yang disebut sebagai Konsensus 92, yang memiliki makna sejarah yang sangat mendalam.
Andrew Hsia mengatakan, “Diyakini bahwa ini merupakan sebuah harapan bersama bagi antar selat maupun kawasan, yang juga merupakan hasil kerja keras ke dua belah pihak. Jika tidak dapat dilanjutkan, maka semua kerja keras selama ini akan sia-sia. Kami ingin dapat berpikir secara positif, dan berani memikul semua tanggung jawab. Kedua belah pihak harus mampu mempertahankan sistim yang telah terbangun selama ini sebagai sebuah landasan yang kokoh, guna menghadapi berbagai cobaan dan situasi yang beragam wujudnya. Semua ini dimaksudkan untuk menghindari situasi antar selat untuk kembali jatuh terperosok.”
Sementara itu Zhang Zhi-jun mengatakan, “Hubungan antar selat saat ini berada dalam kondisi yang sangat penting, kembali lagi dihadapkan kepada pemilihan jalan masa depan. Hubungan antar selat merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Saat kita melakukan pemilihan, seharusnya melihat dari sudut pandang mengimplementasikan kejayaan masyarakat Tionghua, mengikuti perkembangan dan kehendak rakyat, berpegang teguh pada Konsensus 92, menolak Taiwan merdeka. Bersama menuju hubungan antar selat yang damai dan di jalan yang benar. Menghapuskan hambatan, rintangan dan bekerja keras guna masa depan dan kesejahteraan seluruh masyarakat.”
Andrew Hsia menambahkan sejak tahun 2008 hubungan antar selat telah menciptakan kestabilan dan kedamaian di selat Taiwan. Hubungan yang baik ini menjadi sebuah catatan sejarah yang sebelumnya tidak pernah ada. Menggantikan cara keributan dengan komunikasi yang baik, sehingga hubungan antar selat boleh dikatakan berada pada kondisi yang paling stabil dan damai selama kurun waktu 66 tahun terakhir ini.