(Taiwan, ROC) – Hari ini (10/10), pada pidato upacara Hari Nasional, Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, terhadap topik pembicaraan hubungan antar selat, selama 7 tahun ini, Pemerintah terus menjunjung perdamaian dan mengubah dari selat peperangan menjadi jalur damai, selain itu membuat “menjaga keaadan sekarang” menjadi “kesepakatan Taiwan”.
Presiden Ma mengatakan, “Pimimpin dari partai oposisi juga mendukung “mempertahankan status quo”, ini adalah hal yang jarang terjadi, juga kembali membuktikan bahwa kebijakan hubungan antar selat selama 7 tahun pemerintah selain tidak bermaksud “Mendekati Daratan Tiongkok dan Menjual Taiwan” atau “Mengkerdilkan Kedaulatan” bahkan telah menjadi opini publik.”
Namun Kepala Negara kawatir apakah hubungan antar selat akan terus seperti ini. Presiden menjelaskan, keadaan sekarang ini bukanlah hal yang “jatuh dari langit” dan tidak bisa disebut sebagai “sudah semestinya”. Hubungan antar selat harus terus dijaga sehingga baru bisa sama seperti saat ini. Menjaga hubungan ini juga termasuk dalam Konstitusi Republik Tiongkok yaitu “Tidak unifinikasi, Tidak merdeka dan Tidak berperang”. Ini menjadi “Kesepakatan Taiwan” yang didukung oleh 80% opini publik. Selain itu prinsip “konsensus 92, satu Tiongkok persepsi masing-masing” mempromosikan perkembangan hubungan antar selat yang damai. Konsep ini diusulkan oleh Taiwan, pihak Daratan Tiongkok menyetujui, ada lebih dari 50% dari opini publik yang sependapat dengan “Kesepakatan Antar Selat”. Selain itu juga ada konsep menjalankan pertukaran berpegang pada “mengutamakan Taiwan, menguntungkan warganya”, “mendahulukan hal yang mendesak, menyelesaikan hal yang mudah terlebih dahulu baru yang sulit, mendahulukan ekonomi baru politik”, “prinsip sederajat, bermartabat dan timbal balik”.
Presiden menegaskan, “konsensus 92, satu Tiongkok persepsi masing-masing” merupakan yang terpenting, sehingga apabila tidak ada, maka mempertahankan status quo hanya sekedar slogan, omongan belaka.
Kepala Negara mengatakan, “Jika tidak ada “konsensus 92”, maka mempertahankan status quo hanya sekedar slogan, omongan belaka, tidak mungkin direalisasikan secara menyeluruh, juga tidak mungkin mempromosikan perkembangan hubungan antar selat yang damai.”
Presiden menambahkan, yang dimaksud dengan “Kesepakatan Taiwan” dan “Kesepakatan Antar Selat”, yaitu diharapkan menjadi dasar yang dapat menciptakan lingkungan yang sehat dalam membina hubungan antar selat maupun hubungan internasional, jika presiden berikutnya bersedia untuk melanjutkannya, maka hubungan antar selat akan tetap stabil. Presiden juga mengatakan, siapapun yang menjadi presiden berikutnya, dalam masa jabatannya akan diambil sumpah sesuai dengan konstitusi pasal 48, sumpah pertama adalah “saya sepenuhnya bersikap jujur, berjanji kepada seluruh warga Republik Tiongkok, saya akan mematuhi konstitusi”.