(Taiwan, ROC) – Kementrian Tenaga Kerja atau MOL pada hari Kamis tanggal 1 Oktober lalu mengumumkan data statistik terbaru berkenaan dengan adanya perusahaan yang menerapkan kebijaksaan “Libur tanpa gaji”. Dari data yang ada, jumlah pekerja yang terkena dampak kebijaksaan tersebut, hingga akhir bulan September 2015 mencapai 1.223 orang. Angka ini mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu 19 bulan terakhir. Sehubungan dengan jumlah kasus yang telah melebihi seribu orang, Kepala Dewan Pengawasan Keuangan atau FSC, Tseng Ming-chung pada hari Jumat tanggal 2 Oktober menyampaikan bahwa pihak MOL sedang berupaya mengatasi hal tersebut, dan pihak Yuan Eksekutif telah meminta berbagai instansi terkait untuk dapat mendiskusikan dan menggerakkan berbagai program perbaikan iklim ekonomi nasional. Berkenaan dengan terus meningkatnya jumlah pekerja yang terkena dampak kebijaksaan tersebut, Tseng menjawab bahwa hal ini masih harus terus melihat perkembangan iklim ekonomi secara global di kedepannya.
Tseng Ming-chung mengatakan, “MOL telah memulai berbagai upaya pengentasan hal terkait, selain itu untuk menaikkan iklim perekonomian yang ada, Yuan Eksekutif juga telah meminta berbagai instansi terkait untuk dapat merumuskan program bantuan lainnya. Pihak FSC telah membuka kesempatan peminjaman dana usaha bagi perusahaan berskala kecil hingga menengah sebesar NT$ 360 Milyar, dan akan menghabiskan dana sebesar NT$ 540 Milyar setahun. Sementara untuk perusahaan di luar skala yang disebutkan, dana yang dipersiapkan berjumlah NT$ 500 Milyar untuk setahun. Selain itu kami juga meminta pihak perusahaan asuransi juga dapat turut memasukkan dana yang dimilikinya untuk diinvestasikan ke dalam bidang pembangunan infrastruktur umum.”Berkenaan dengan pergerakkan dana investasi asing, Tseng menyebutkan bahwa berdasarkan data statistik terbaru yang dikeluarkan tanggal 1 Oktober, hingga saat ini jumlah dana investor asing yang berada di Taiwan sebesar US$ 193,3 Milyar. Angka ini mengalami penurunan sedikit. Tseng melihat kondisi ini akan berhenti secara perlahan seiring dengan keputusan penundaan penaikan suku bunga dari pihak Amerika Serikat.