(Taiwan, ROC) – Kemarin sore (29/9) Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou (馬英九) menerima undangan komite Taiwan-Eropa, parlemen Uni Eropa untuk melangsungkan Konferensi Video. Ini adalah pengalaman perdana, presiden melangsungkan pertemuan jarak jauh terbuka dengan anggota parlemen Uni Eropa lewat video. Dalam pidato pembukaan, presiden Ma menyampaikan, bahwa program pertukaran pelajar antara Jerman dan Perancis telah menciptakan perdamaian kedua negara. Disaat yang bersamaan, mengesampingkan pertikaian Laut Utara serta hubungan Jerman Barat dan Jerman Timur, dimana ketiga “Pengalaman Eropa” itu telah memberikan inspirasi baginya, beliau akan merujuk kepada pengalaman itu untuk memperbaiki hubungan antar selat.
Dalam pertemuan tersebut, presiden Ma dan Ketua parlemen Werner Langen juga membahas hal yang berkaitan dengan keamanan regional sampai perdagangan internsional.
Berbicara soal “pengalaman Eropa”, Ma menuturkan, perang antara Jerman dengan Perancis memakan waktu lebih dari seratus tahun, namun setelah Perang Dunia II selesai, kedua negara mulai melakukan program pertukaran pelajar dalam skala yang cukup besar, ini telah merubah hubungan kedua negara, ini menjadi pilar utama kemitraan Eropa. Presiden menambahkan, sejak dirinya menjabat sebagai presiden berusaha untuk mendorong interaksi pelajar antar selat, agar kaum muda sedini mungkin menjalin pertemanan, dengan demikian baru dapat mengurangi kesalahpamahan dan memelihara perdamaian.
Ma menyampaikan : Jadi kaum muda yang satu rumpun yaitu orang Tionghoa dapat menjadi teman, sehingga tidak akan terjadi perang antar selat. Oleh karena itu, setelah menjabat saya berusaha mendorong ada interaksi pelajar antar selat, jumlah pelajar Daratan Tiongkok yang semula 823 orang sekarang telah mencapai 33 ribu orang, tumbuh 40 kali lipat. Saya yakin, sedini mungkin anak-anak muda menjalin pertemanan baru bisa mengurangi kesalahpahaman dan memelihara perdamaian.
Kepala negara juga menyampaikan, setiap negara di Eropa juga memegang prinsip “mengesampingkan pertikaian, menikmati sumber alam bersama” untuk menyelesaikan permasalahan Laut Utara, hal ini memberikan kesan yang cukup mendalam, sehingga beliau menggunakan prinsip yang sama mengutarakan “Ikrar laut Timur” dan mengimplementasikan pada “Perjanjian perikanan Taiwan-Jepang”, selanjutnya beliau berharap dapat menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan masalah Laut Selatan.
Selain itu pula, saat memasuki sesi tanya jawab, kedua belah pihak membahas topik perdagangan internasional, Ma mengutarakan bahwa Taiwan dapat menerima Uni Eropa menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Daratan Tiongkok terlebih dahulu, namun saat ini hubungan investasi Taiwan-Uni Eropa sudah pada titik jenuh, dibutuhkan dobrakan. Sudah saatnya untuk membahas Perjanjian Kerjasama Ekonomi (ECA) atau Perjanjian Invesatasi Bilateral (BIA), bila Uni Eropa menilai hal ini harus dipisahkan, maka pihak Taiwan juga bersedia untuk mengevaluasinya.