(Taiwan, ROC) Jumlah kasus demam berdarah (dengue) yang dicatat di Tainan, Taiwan selatan, mencatat penurunan untuk pertama kali dalam 14 pekan terakhir, mensinyalkan kecenderungan meredanya penyebaran wabah yang telah menimbulkan kekhawatiran nasional tersebut.
Berdasarkan statistik terbaru yang dirilis Senin (21/9) oleh Pusat Pengontrolan Penyakit (CDC), sejumlah 347 kasus dengue baru dilaporkan sehari sebelumnya, mencatat angka lebih rendah dari rata-rata 500 kasus per hari yang dicatat dalam 14 pekan terakhir.
Secara keseluruhan, CDC telah mencatat 11.462 kasus demam berdarah di Tainan, kota paling serius yang terinfeksi wabah tersebut sejak berawalnya musim panas 1 Mei; sedangkan untuk seluruh Taiwan, kasus dengue yang tercatat berjumlah 13.209 kasus.
Wakil ketua CDC Chuang Jen-hsiang mengatakan, “Dibawah upaya pencegahan dari pemerintah sentral, pemerintah daerah dan rakyat, wabah demam berdarah sudah agak mereda. Tapi kita tidak boleh melonggarkan kewaspadaan, karena di tahun-tahun silam, waktu memuncaknya wabah dengue adalah Oktober dan November.”
Menurut Chuang, berkurangnya jumlah kasus dengue hanya di kurun waktu satu minggu tidak cukup untuk memastikan wabah dengue sudah sepenuhnya mereda.
Pada umumnya, lanjut Chuang, andaikata penurunan jumlah kasus dicatat sepanjang tiga pekan secara berturutan, baru berarti pengontrolan penyebaran wabah sudah menstabil.
Sekedar informasi, demam berdarah adalah penyakit menular melalui gigitan nyamuk, biasanya terjadi pada musim panas. Tahun lalu, jumlah infeksi memuncak pada Oktober dan mereda pada Januari tahun ini.
CDC mengingatkan, warga harus secepatnya berobat kalau menderita gejala dengue seperti demam panas, sakit kepala, badan lemas, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah-muntah.
Andaikata didiagnosa dan diobati pada masa dini, resiko kematian akibat dengue bisa direndahkan menjadi kurang dari 1%, lanjut CDC.