(Taiwan, ROC) – Direktorat jenderal budget, akuntasi dan statistik(DGBAS) pada hari ini(9/8) mengumumkan harga indeks konsumen(CPI) untuk bulan Agustus, dibandingkan dengan tahun lalu pada bulan yang sama turun 0,45%, telah menunjukkan angka penurunan dalam waktu 8 bulan berturut-turut, menciptakan krisis moneter, atau dapat dikatakan semenjak tahun 2009 jumlah penurunan ini merupakan masa terpanjang. DGBAS menekankan, harga indeks konsumen(CPI) bulan Agustus turun dikarenakan skala penurunan harga minyak sangat drastis, jika meniadakan faktor sayur buah dan sumber energi, inti CPI masih naik 0,61%, harga barang stabil dan tidak adanya kekhawatiran deflasi.
DGBAS pada hari ini(9/8) mengumumkan CPI bulan Agustus dibandingkan dengan bulan sebelumnya naik 0,63%; dibandingkan dengan tahun lalu pada bulan yang sama turun 0,45%, bulan Januari hingga Agustus dibandingkan dengan tahun lalu dengan periode yang sama secara rata-rata turun 0,62%, menunjukkan pertumbuhan minus selama 8 bulan berturutan.
DGBAS mengemukakan, CPI bulan Agustus dibandingkan dengan CPI tahun lalu periode yang sama mengalami penurunan 0,45%, dikarenakan faktor utama adalah harga bahan bakar, harga gas alam dan revisi turun harga listrik, khususnya untuk harga bahan bakar secara berturut-turut dalam waktu 9 bulan skala penurunan mencapai lebih dari 20%, mempengaruhi indeks keseluruhan turun 1 persen; namun masyarakat secara riil dapat merasakan kenaikan harga makanan 3,07%; kenaikan harga sayuran 14,07% paling tinggi, selain itu harga buah-buahan, makanan olahan, jenis daging dan jajanan luar juga mengalami kenaikan.
DGBAS menganalisa, CPI mengalami pertumbuhan minus selama 8 bulan berturutan, dilihat pada masa lalu untuk untuk masa penurunan panjang dialami pada bulan Februari hingga Desember 2009, pada saat itu mengalami krisis moneter, daya permintaan konsumen berkurang, harga minyak bumi menurun ; namun pada tahun ini dikarenakan persediaan minyak bumi melebihi dari permintaan, dalam beberapa waktu dekat ini permintaan juga menurun, kedua kondisi ini tidaklah sama.
Wakil direktur DGBAS Tsai Yu-tai(蔡鈺泰) mengatakan:“pada waktu ini adalah di tahun 2008, harga minyak bumi melonjak, untuk harga minyak per barel mencapai 147 dolar, kemudian di tahun 2009 dikarenakan krisis moneter, permintaan secara keseluruhan menurun, maka harga secara terus menerus menurun, faktor sisi permintaan relatif besar, sehingga menjadi supplier, sementara dalam waktu dekat ini dilihat kondisi yang ada, sisi pasokan lebih besar daripada permintaan, hingga saat ini belum diketahui bagaimana dengan pandangan masyarakat internasional, namun saya pikir sisi permintaan juga menjadi faktor penting.”
DGBAS menekankan, jika meniadakan faktor buah, sayuran dan sumber energi yang merupakan faktor perubahan besar, pada inti CPI bulan Agustus naik 0,61%, harga lainnya tetap stabil dan tidak mengkhawatirkan adanya deflasi.
Sementara untuk indeks harga grosir(WPI) bulan Agustus dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama mengalami penurunan 9,23%, diantaranya salah satu indeks harga penjualan domestik dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu turun 10,97%, ini merupakan penurunan skala besar dalam 72 bulan terdekat ini, yang dikarenakan faktor minyak bumi, batu bara dan harga bahan baku lainnya dan penurunan harga listrik.