(Taiwan, ROC) – Hari Kamis tanggal 20 Agustus, Presiden Ma Ying-jeou menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh Organisasi Veteran Perang Republik Tiongkok, dengan tajuk “Peringatan 70 Tahun Kemenangan Perang dan Pemulihan Taiwan”. Ma juga turut memberikan piagam anugrah kehormatan kepada 12 veteran pasca perang.
Presiden Ma menyampaikan bahwa selama masa perang melawan Jepang, telah menyebabkan lebih dari satu juta prajurit meninggal dunia, jutaan prajurit lainnya juga tidak luput untuk menanggung beban luka yang berat. Selain itu masih belum termasuk rakyat sipil yang tewas akibat perang, yang jumlahnya lebih dari 20 juta jiwa. Kerugian nyawa dan material menjadi sebuah catatan sejarah yang menyedihkan. Namun pengorbanan tersebut berbuah kemenangan, tidak semata melindungi kelangsungan kehidupan masyarakat Tionghwa, juga turut memulihkan kondisi Taiwan. Untuk itulah pemerintah sejak bulan Maret yang lalu mulai menggelar serangkaian kegiatan peringatan terkait di berbagai tempat di Taiwan, agar bagian penting dari sejarah ini dapat menjadi sorotan utama khalayak umum.
Presiden Ma juga menceritakan saat dirinya memberikan anugrah kehormatan serupa belum lama ini di Sekolah Kemiliteran Fengshan Kaoshiung, ada seorang veteran tua yang memberikan masukan kepadanya, berkenaan dengan waktu pelaksanaan yang sekiranya dapat dilakukan 20 tahun lebih awal, karena banyak prajurit tua yang kini telah tiada.
Presiden Ma mengatakan, “Saat itu saya juga tengah berpikir, benar juga, mengapa penganugrahan tidak dapat dilakukan 20 tahun silam. Tetapi melihat kondisi 20 tahun atau 10 tahun silam, pimpinan pemerintah saat itu, sangat tidak mungkin untuk melakukan hal ini. Oleh sebab itu, penganugrahan penghargaan jika dapat dilakukan selama saya masih mampu dan menjabat sebagai presiden, maka saya rasa saya tidak sia-sia menjabat sebagai presiden selama 8 tahun ini.”
Presiden Ma menjelaskan bahwa Mantan Sekjen Partai Komunis Daratan Tiongkok, Hu Jin-tao pernah mengatakan bahwa saat perang melawan Jepang, prajurit nasionalis yang memimpin di garis depan, sementara prajurit komunis melakukan penyerangan dari belakang lawan. Banyak cara perlawanan yang dipelopori oleh prajurit nasionalis, walaupun ada sebagian yang didukung oleh prajurit komunis, tetapi prosentase keikutsertaan tidak tinggi. Presiden Ma menambahkan bahwa belum lama ini dirilis sebuah film yang menggunakan sosok Mao Ze-dong yang digambarkan menghadiri Konferensi Kairo. Ma menyebutkan sebagai sebuah lelucon yang besar dan berharap semua pihak dapat menerima kenyataan sejarah dengan bersikap jujur. Karena perang melawan Jepang adalah misi yang dipelopori oleh prajurit nasionalis. Hal ini bukan bermaksud untuk merebut tanda jasa, namun melihat kenyataan sejarah yang sebenarnya, yang tidak dapat digantikan oleh siapapun.