(Taiwan, ROC) – Pada era perang dunia ke dua, terjadi peristiwa pembantaian massal terhadap warga di kota Nanking yang dilakukan oleh para serdadu Jepang. Saat itu ada seorang pengusaha asal Jerman, John Rabe dan misionaris asal Amerika, Minnie Vantrin, bersama membangun sebuah kawasan yang disebut “Zona Aman Internasional”. Tempat tersebut berhasil memberikan perlindungan untuk lebih dari 250 ribu warga, sehingga berhasil terhindar dari aksi pembantaian yang terjadi. Saat ini cucu dari John Rabe, yakni Thomas Rabe dan Cindy Vantrin yang adalah cicit keponakan dari Minnie Vantrin, tengah berkunjung ke Taiwan memenuhi undangan dari pemerintah Republik Tiongkok dalam rangka mengikuti serangkaian kegiatan peringatan 70 tahun kemenangan perang dunia ke dua.
Presiden Ma Ying-jeou pada hari Jumat tanggal 14 Agustus memberikan anugrah penghormatan bagi Thomas Rabe dan Minnie Vantrin, yang diterima oleh anggota keluarganya atas sumbangsih besar yang diberikan pasca perang dunia ke dua. Ma menyampaikan bahwa saat itu baik Thomas Rabe maupun Minnie Vantrin atau warga asing lainnya tidak berkewajiban untuk memberikan bantuan dan boleh saja menghindari medan perang yang ada. Namun mereka memilih menetap demi memberikan bantuan perlindungan kepada etnis Tionghwa dari pembantaian oleh serdadu Jepang. Ma mewakili masyarakat Tionghwa menyampaikan ungkapan terima kasih yang mendalam bagi semua pemberi bantuan perlindungan pasca perang dunia ke dua. Usai sambutan, Ma segera menyeka air mata yang telah lama ditahan olehnya.
Presiden Ma mengatakan, “John Rabe, Minnie Vantrin dan Dokter Robert Wilson, serta masih banyak lagi sukarelawan asing yang turut memberikan bantuan di Zona Aman Internasional tersebut. Yang sebenarnya mereka semua dapat meninggalkan kota Nanking, menghindari medan perang. Tetapi mereka memilih untuk menetap dan memberikan perlindungan bagi masyarakat kita. Saat itu banyak pula sukarelawan yang harus menerima pukulan serta siksaan dari serdadu Jepang. Namun mereka tidak berhenti dalam menjalani sikap kemanusiaannya, dan berhasil memberikan perlindungan kepada lebih dari 250 ribu warga. Mereka adalah penolong kita semua.”
Ma menambahkan selain John Rabe dan Minnie Vantrin, masih ada seorang dokter bernama Robert Wilson yang memilih tetap berada di Nanking, karena Robert menyebut warga Tionghwa setempat bagaikan orang sendiri.