(Taiwan, ROC) Kantor Pemeriksa Keuangan Nasional (NAO) dibawah Yuan Pengontrol khawatir bahwa kondisi pengeringan otak (brain drain) akan terjadi di Taiwan, setelah menemukan jumlah pegawai kantor kerah-putih yang bekerja di luar negeri terus bertambah disebabkan lambatnya peningkatan upah dan jam kerja panjang di Taiwan.
Sebuah laporan atas situasi pertumbuhan ekonomi 2014 yang diajukan NAO menunjukkan, meski dengan sukses mencapai kemajuan ekonomi yang ditargetkan, pasar tenaga kerja di Taiwan mungkin akan mengalami kekurangan buruh di masa depan disebabkan upah rendah dan berkurangnya jumlah profesional high-end.
Dalam laporan tersebut, NAO mengutarakan, rata-rata 20.000 sampai 30.000 pegawai, mayoritas pegawai kantor kerah-putih, meninggalkan Taiwan setiap tahun dalam satu dasawarsa terakhir untuk menerima lowongan kerja di luar negeri, sementara jumlah profesional asing di Taiwan hampir tidak berubah dalam kurun waktu yang sama.
Lambatnya peningkatan upah juga salah satu masalah serius yang harus dihadapi, lanjut laporan tadi.
Mengutip data dari Direktorat Jenderal Bujet, Akuntansi dan Statistik (DGBAS), NAO mengatakan, peningkatan upah di Taiwan pada 2014 mencatat angka lebih rendah daripada inflasi, mengisyaratkan realitas terjadinya pengurangan upah.
NAO juga khawatir, oleh karena sejumlah 70% pegawai di Taiwan mendapatkan upah bulanan lebih rendah dari NTD40.000 (USD1.264) pada 2014 dan sejumlah 40% hanya mendapatkan upah NTD30.000 per bulan, berarti kecenderungan upah rendah telah menyebarluas ke seluruh Taiwan.
Berbasis kekhawatiran tersebut, Badan Pemeriksa Keuangan Nasional mengusulkan pemerintah untuk memonitor pengaliran sumber manusia, dan terus memberikan insentif agar bisa menarik atau membujuk pegawai tingkat profesional untuk terus menetap di Taiwan.