(Taiwan, ROC) – Institusi Riset Ekonomi Chunghua atau CIER pada hari Rabu tanggal 29 Juli menggelar seminar internasional dan mengundang para pakar ahli ekonomi dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, khususnya membahas dan menganalisa mengenai kesempatan dan tantangan yang akan dihadapi oleh Taiwan jika Komunitas Ekonomi Asean atau AEC serta Kerjasama Ekonomi Komprehensif Regional atau RCEP resmi terbentuk. Mantan Menteri Perdagangan Indonesia menyerukan Taiwan untuk dapat lebih aktif dalam keikutsertaan menjadi keanggotaan di dalamnya. Kepala CIER, Wu Chung-shu menyampaikan bahwa Taiwan menghadapi berbagai kendala dan tantangan dalam hal menjalin berbagai kesepakatan perdagangan di dunia internasional. Untuk itu Wu juga berharap semua rencana kesepakatan yang akan ditandatangani tidak semestinya ditunda karena adanya sebagian kecil pihak yang tidak menyetujuinya.
Dalam seminar yang bertajuk “Kesempatan dan Tantangan Setelah Terbentuknya AEC dan RCEP”, terdapat 10 negara yang menjadi keanggotaan AEC, sementara untuk RCEP sendiri diikuti oleh 16 negara. Melihat situasi yang ada saat ini, diprediksi akhir tahun 2015 kedua organisasi kerjasama kawasan ini akan terbentuk secara resmi. Baik AEC maupun RCEP akan mengakibatkan perubahan yang besar terhadap peta perekonomian kawasan Asia Pasifik.
Mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Muhammad Lutfi dalam pidatonya mengambil contoh mengenai keterbukaan Indonesia dalam menyambut kedatangan para pekerja asing di Indonesia, terlebih-lebih para ahli yang bergerak dalam bidang medis kedokteran dan aeronautika. Dengan keterbukaan ini, maka akan meningkatkan jumlah wisatawan asing ke Indonesia dan melancarkan pembangunan sarana transportasi yang ada. Selanjutnya perkembangan ini juga telah menarik minat para investor asal Jepang untuk berinvestasi. Lutfi juga menambahkan bahwa dengan adanya keterbukaan ini, memberikan efek positif yang besar. Lutfi menyarankan Taiwan juga dapat lebih aktif dan menjadi salah satu anggota kesepakatan perdagangan bebas kawasan.
Wu Chung-shu mengatakan, “Di sini kami menghadapi adanya sebagian kecil komunitas yang mengajukan berbagai kritikna sehingga memperlambat upaya kerjasama. Mereka juga tidak memiliki visi internasional. Mereka tidak peduli adanya perusahaan dalam negeri yang dimerger, namun pada waktunya semua produk otomotif akan diekspor dari Indonesia, walaupun itu adalah investasi dari pihak Jepang. Mereka melihat kesepakatan perdagangan bebas ini dari sudut pandang yang lebih luas lagi.”
Wu menegaskan Taiwan semestinya tidak melepaskan setiap kesempatan dalam keikutsertaan menjadi salah satu anggota organisasi perdagangan bebas, baik kesepakatan dengan pihak Daratan Tiongkok melalui perjanjian ECFA ataupun dengan pihak ASEAN dan negara lain di dunia.