(Taiwan, ROC) Taiwan berpegang pada pendirian tidak meniadakan kemungkinan diadakannya pertemuan antara pemimpin kedua belah Selat Taiwan, tapi tidak akan memaksa terwujudnya hal tersebut.
Demikian ditegaskan Presiden Ma Ying-jeou dalam wawancara bersama BBC Inggris, dimana isinya resmi dipublikasi oleh Kantor Kepresidenan pada hari Senin (27/7) dan dijadwalkan ditayangkan oleh BBC pada hari yang sama.
Menurut keterangan pers dari Kantor Kepresidenan, dalam wawancara yang berlangsung hari Jumat (24/7) di Kantor Kepresidenan itu, Ma mengutarakan, hubungan ekonomi dan budaya antar Selat Taiwan telah mengalami kemajuan pesat sejak inaugurasinya, maka adalah hal sangat lazim bagi pemimpin Taiwan dan Daratan Tiongkok untuk mengadakan pertemuan.
Ma mengemukakan, Taiwan berupaya mewujudkan pertemuan tersebut melalui kesempatan berlangsungnya konperensi tahunan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) dalam dua tahun ini, tapi upaya tersebut tidak mampu membuahkan hasil konkrit.
Ini adalah hal yang sangat disesalkan, tutur Ma, tapi hingga kini Taiwan tetap berpegang pada pendirian tidak meniadakan kemungkinan tapi tidak memaksa terwujudnya pertemuan tersebut.
Kepala negara menerangkan, dengan adanya pertumbuhan hubungan antar Selat Taiwan beberapa tahun ini, Taiwan beranggapan bahwa diadakannya pertemuan antar pemimpin Taiwan dan Daratan Tiongkok melalui gelanggang internasional adalah hal yang tidak akan dielakkan, tapi Daratan Tiongkok selalu mengelak terwujudnya hal tersebut, mungkin karena menganggapnya melanggar prinsip “satu Tiongkok” yang ditaatinya.
Perihal laporan diduga munculnya Kantor Kepresidenan Republik Tiongkok sebagai sasaran serangan dalam latihan militer Tentara Pembebasan Rakyat Daratan Tiongkok, Presiden Ma mengungkapkan sikap tidak puas terhadap tindakan tersebut.
Tapi, Ma juga menegaskan, hal ini sekali lagi mengingatkan Taiwan, ancaman militer belum sepenuhnya dihapuskan dalam perkembangan hubungan antar Selat Taiwan, maka Taiwan harus selalu bersiap-siaga dalam menghadapi kemungkinan tersebut.