History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Diplomatik Fleksibel, Presiden: Diplomat Berdiri Tegak

  • 16 July, 2015
  • Editor
Diplomatik Fleksibel, Presiden: Diplomat Berdiri Tegak
Kunjungan kenegaraan Presiden Ma Ying-jeou ke negara sahabat

(Taiwan, ROC) – Kunjungan kenegaraan presiden Republik Tiongkok ke negara sahabat sudah memasuki masa-masa terakhir, beliau beserta rombongan akan berangkat dari Nikaragua tanggal 15 sore waktu setempat kembali ke Taiwan. Saat ditanya oleh wartawan yang ikut serta, apa yang didapatkan dalam kunjungan kali ini, Ma mengapresiasi kinerja diplomatik fleksibel. Presiden menyampaikan, saat berkunjung di Harvard University dan mengikuti pertemuan tertutup dengan cendikiawan di sana mendapatkan banyak masukan yang baik dan tidak melanggar kesepakatan bersama dengan pihak Amerika. Selain itu, termasuk juga berbicara di parlemen Dominika dan pembahasan mendalam kerjasama bilateral yang lebih mendalam saat di Haiti dan Nikaragua, dirinya sangat senang karena bisa memberikan bantuan.

Kepala negara menuturkan, pengaruh Daratan Tiongkok di dunia internasional semakin besar, skala bantuan Taiwan tiada bandingannya, namun ini adalah kelebihan dari Taiwan, misalnya bantuan meningkatkan taraf hidup kaum petani, sehingga rakyat setempat bisa merasakan adanya perubahan walau kecil tapi bermakna. Presiden bahkan menilai, dibandingkan dengan sebelumnya, diplomat sekarang semakin dihargai.

Presiden menyampaikan, ”Tugas diplomat kita, terutama 7 tahun terakhir ini, saat bertemu dengan diplomat senior, mereka mengatakan kepada saya, pak presiden kami merasa sekarang berbeda dengan dulu, sekarang kami bisa berdiri tegak, melakukan apa yang harus, saya merasa terharu mendengarnya.”

Presiden Ma juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan “diplomat uang”, menentukan prinsip, ini bukan menghamburkan uang tapi menyalurkan dana ke tempat yang tepat, sehingga anggaran Kementerian Luar Negeri berkurang banyak.

Berkaitan dengan banyaknya pertikaian Laut Selatan, Ma mengutip ucapan cendikiawan Jerman, karena dari segi sejarah dan kebudayaan sehingga di Asia Timur tidak banyak ditemui kasus yang diselesaikan lewat persidangan. Oleh karena itu beliau mengusulkan inisiatif perdamaian di Laut Timur dan Laut Selatan, tidak menegaskan menggunakan cara hukum untuk menyelesaikan masalah teritorial dan kedaulatan, tapi lebih kepada menggunakan cara berbagi sumber daya. Presiden kembali menegaskan, pemerintah tidak akan merubah atau melepaskan kedaulatan atas Laut Selatan. 

Ma menyampaikan, ”Teritorial kami di Laut Selatan bukan hanya pulai Taiping, saya rasa ini tidak boleh kita abaikan. Namun kebijakan Republik Tiongkok adalah satu yaitu, Kami Berdaulat, Mengesampingkan Pertikaian, Perdamaian dan Saling Menghormati, Pengelolaan Bersama, dengan kata lain, berkaitan dengan kedaulatan kami, tidak akan berubah sedikitpun maupun melepaskannya, tapi bisa mengesampingkan dulu pertikaian kedaulatan.”

Presiden Ma juga mengambil Perjanjian Perikanan Taiwan-Jepang sebagai contoh, 2 tahun setelah penandatanganan, operasionalnya berjalan dengan baik, mendapat apresiasi dari banyak negara. Beliau menyadari, masalah Laut Selatan lebih rumit dari pada Laut Timur namun penyelesaiannya akan lebih efisien bila mengarah kepada tujuan ini.

 

Komentar

Terbarumore