(Taiwan, ROC) Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou dalam kunjungan kenegaraan ke negara sahabat, Rabu pagi (14) waktu setempat tiba di Haiti dan disambut langsung oleh Presiden Michel J. Martelly.
Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke Tugu Kemerdekaan untuk membubuhkan tandatangan, menyematkan bunga kemudian mengahadiri upacara peresmian gedung Mahkamah Agung. Dalam acara tersebut, Uskup Haiti dan presiden Martelly secara khusus mengheningkan cipta dan menyampaikan doa kepada korban dari kebakaran Formosa Fun Coast.
Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan empat mata antar kedua pemimpin negara. Dalam jumpa pers, presiden Ma menyampaikan, ini adalah kunjungan kedua ke Haiti, pasca bencana gempa 5 tahun yang lalu, Republik Tiongkok segera mengulurkan bantuan untuk rekonstruksi, namun perjalanannya kurang begitu lancar, walau Taiwan tidak mampu menanggung seluruh program yang ada namun akan semaksimal mungkin.
Berkenaan dengan 60 tahun hubungan diplomatik, media menanyakan apakah kedua pemimpin negara akan mempererat hubungan bilateral? Ma menyampaikan, sinar matahari di Haiti sangat cukup, namun saat ini masih menggunakan listrik yang bertenaga diesel, biaya operasional yang tinggi, Republik Tiongkok adalah negara kedua terbesar produsen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) , juga akan berusaha untuk mendukung pembangunan PLTS, guna menghemat biaya, sehingga dana itu bisa dialihkan ke tempat yang lebih mendesak.
Presiden Ma mengatakan : Saya berkata bagaimana dengan sinar matahari disini? Presiden Martelly mengatakan, disini 365 hari seperti ini, sangatlah cukup, namun apakah dapat diterapkan dan dapat mengurangi impor sumber energi lainnya. Mereka menggunakan PLTD, tentu biayanya lebih tinggi, dengan cara ini dapat menghemat pengeluaran, sehingga dana yang ada dapat dialihkan ke tempat yang lebih mendesak.
Presiden Martelly menyampaikan, mempererat hubungan bilateral adalah sangat penting, kerjsama dua negara sangat diharapkan, seperti pembangungan rekonstruksi gedung MA, memberikan sumbangan untuk membangun jalan-jalan Haiti, tim tekhnis pertanian Taiwan juga sangat disambut baik. Haiti akan berusaha semaksimal mungkin membantu Republik Tiongkok untuk ikut serta dalam organisasi internasional.
Presiden Martelly juga menyampaikan, dua negara masih bisa melakukan pertukaran budaya, warga Haiti sangat berterima kasih atas bantuan Republik Tiongkok di segi yudisial, Haiti berniat dan bertekad menjadi negara yang bersupremasi hukum.
越南家事外勞、漁工今起解凍
(Taiwan, ROC) Kementerian Tenaga Kerja Republik Tiongkok (MOL) Rabu ini (15) mengumumkan bahwa mengijinkan kembali Tenaga Kerja Vietnam Domestik (rumah tangga) dan nelayan bekerja di Taiwan namun untuk pekerja domestik sebelum bekerja di Taiwan harus menerima pelatihan 390 jam, selain itu, bila yang bersangkutan kabur dari majikan maka tiket pesawat dan biaya penampungan ditanggung oleh pihak Vietnam dan tidak akan ditalangi terlebih dahulu oleh pemerintah Taiwan.
Masalah kaburan pekerja Vietnam di Taiwan sangat besar, sehingga per bulan Mei 2004 pemerintah Taiwan mengambil langkah moratorium sektor nelayan dan satu bulan berikutnya adalah pekerja domestik. Hari ini (15) memulihkan penempatan pekerja Vietnam dan setelah 1 tahun kemudian akan dilakukan evaluasi.
Direktorat Jenderal Ditjen Pengembangan Tenaga Kerja Liu Cia-cun (劉佳鈞) menuturkan, yang membedakan dengan sistem penempatan sebelumnya adalah pekerja domestik harus menerima pelatihan perawatan selama 90 jam, 200 jam pelajaran mandarin dan 100 jam pengetahuan soal hukum. Selain itu, untuk denda, biaya penampungan, deportasi karena yang bersangkutan kabur maka akan merujuk kepada ketentuan di Taiwan yaitu, apabila tanggung jawab pekerja Vietnam maka harus ditanggung sendiri atau keluarganya, bila yang bersangkutan tidak mampu maka harus ditalangi oleh perusahaan jasa di Vietnam yang menempatkannya. Ia mengatakan : Untuk mencegah terjadinya kaburan, kami meminta perusahaan jasa penempatan menandatangani surat pernyataan, bila kaburan itu tertangkap, mereka harus bertanggung jawab atas tiket pesawat, biaya penampungan, harus menalanginya dulu, tidak akan ditalangi oleh pemerintah kita, dengan demikian jumlah kaburan berpeluang dapat berkurang.
MOL juga menyampakan, pihak Vietnam juga menyetujui bahwa pihaknya akan memeriksa nama-nama kaburan yang diinfokan oleh pemerintah Taiwan dan setiap 2 bulan pihak Vietnam akan memberikan informasi jumlah dan nilai denda yang dikenakan kepada para kaburan tersebut.
Selain itu, guna menurunkan biaya penempatan yang terlampau tinggi, MOL menghimbau majikan untuk mengurus proses perekrutan lewat Direct Hiring, diperkirakan dapat menghemat biaya majikan sekitar NT$ 20.000, sedangkan pekerja sekitar NT$ 150.000, sehingga secara tidak langsung menaikan gaji si pekerja.