(Taiwan, ROC) – Berdasarkan angka bulan Januari hingga Juni 2015 ini, ekspor Taiwan turun 7,1%. Wakil Presiden Republik Tiongkok Wu Den-yih (吳敦義) Rabu ini (8) saat menghadiri acara rapat nasional Asosiasi Nasional Perindustrian dan Perdagangan Tiongkok, Taiwan (CNAIC) menyampaikan dalam pidato pembukaan bahwa negara-negara tetangga mengalami stagnasi ekonomi dan Taiwan juga menghadapi momen penting perkembangan masa depan dan menegaskan harus melakukan negosiasi perjanjian ekonomi regional agar ekonomi Taiwan tidak dikerdilkan.
Kementarian Keuangan Republik Tiongkok melaporkan data statistik untuk bulan Juni bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya merosot 13,9%, untuk akumulasi paruh tahun pertama total merosot 7,1%, tingkat kemunduran melampui prediksi.
Wapres Wu Den-yih menambahkan, ekspor adalah momentum yang sangat penting bagi Taiwan, dari Januari hingga Juni mengalami pertumbuhan minus, kondisi negara tetangga juga kurang begitu baik termasuk Korea Selatan turun 5%, Jepang turun 7,4%, Singapura bahkan turun 13,2%, hanya Daratan Tiongkok yang mengalami kenaikan 0,6%, menunjukan negara-negara di kawasan Asia saat ini mengalami stagnasi ekonomi dan Taiwan juga menghadapi momen penting perkembangan masa depan.
Wapres menyampaikan, menanggapi seruan dari kalangan pengusaha agar Taiwan dalam waktu singkat ikut serta dalam TPP atau RCEP, bahwa ia juga berpendapat Taiwan harus ikut serta karena apabila tidak maka Taiwan akan semakin menyusut dan melemah.
Wapres menyampaikan : Bila TPP dan RCEP digabungkan maka akan mengampil 70% porsi ekspor negara kita, ini harus…harus ditandatangani. Bila tidak dapat ikut dalam pasar RCEP dan pasar TPP yang diprakarsai oleh Amerika, maka kita akan menyusut, melemah, ini adalah hal yang harus diperhatikan.
Menanggapi antisipasi setelah diberlakukannya pengurangan jam kerja buruh yang diserukan oleh kalangan pengusaha, Wapres juga sepakat karena apabila tidak maka akan mengikat jalannya usaha serta menaggapi pemesanan yang mendadak.