(Taiwan-ROC) Setelah Wakil Yuan Legislatif, Hung Hsiu-chu berhasil lolos dalam pemilihan awal kandidat Presiden dari partai berkuasa Partai Kuo Min Tang (KMT), maka ia akan berhadapan dengan lawannya, calon yang diunggulkan dari partai oposisi, yaitu ketua Partai Progresif Demokratik (DPP), Tsai Ing-wen. Asosiasi Kebijakan Antar Selat pada hari Kamis tanggal 18 Juni mengelar jumpa pers “Jajak Pendapat Hung Hsiu-chu dan Tsai Ing-wen”, dari jajak pendapat memperlihatkan, pendukung Tsai Ing-wen mencapai 50,2%, lebih unggul dari Hung Hsiu-chu yang mendapatkan dukungan sebanyak 29,3%; dalam hal kemampuan memimpin, kemampuan melindungi Taiwan, tingkat kepercayaan, pandangan internasional, kebijakan antar selat dan lainnya, semua ini Tsai Ing-wen lebih unggul dari Hung Hsiu-chu.
Dalam pengakuan “Opini Antar Selat Taiwan” Tsai dengan “status quo Antar Selat Taiwan” mendapat dukungan sebesar 63,1%, sedangkan Hung Hsiu-chu dengan “Pernyataan Bersama akan Satu Tiongkok” hanya mendapat dukungan sebanyak 31,2%, ini memperlihatkan keraguan terhadap Hung Hsiu-chu.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Kebijakan Antar Selat, Hung Yao-nan mengatakan, ”Pada hubungan antar selat Taiwan malah berbalik, sebagian besar pendukung pan biru malah cenderung memberikan dukungan bagi Tsai Ing-wen, Tsai Ing-wen dengan “status quo” mendapat dukungan 60% lebih, sedangkan Hung Hsiu-chu dengan “Pernyataan Bersama akan Satu Tiongkok” hanya mendapat 30% lebih, mungkin dikedepannya perlu bagi Hung Hsiu-chu mengungkapkan pandangannya secara lebih mendalam, apa yang dimaksud dengan pernyataan bersama akan satu Tiongkok? Apakah mengubah situasi sekarang atau tidak? Dengan demikian baru bisa dukungan dari pendukungnya.
Ketua Asosiasi Kebijakan Antar Selat, Tong Tzeng-yen (童振源) menganalisa, Hung Hsiu-chu ingin menandatangani “Perjanjian Perdamaian Antar Selat” untuk menjamin perdamaian antar selat dan perkembangan Internasional, tetapi dalam situasi antar selat Taiwan, perjanjian perdamaian antar selat hanya akan menimbulkan konfrontasi antar selat dan kekacauan pada interen Taiwan, bahkan Presiden Ma Ying-jeou tidak berani untuk mempromosikan ini, tetapi Hung Hsiu-chu malah ingin “merubah situasi”, masyarakat merasa khawatir Hung Hsiu-chu tidak dapat mempertahankan kedaulatan, keuntungan dan kehormatan Taiwan.