(Taiwan, ROC) – Tahun ini adalah genap 25 tahun terjadinya “Tragedi 4 Juni”, yang juga merupakan genap 70 tahun kemenangan perang dunia ke dua. Presiden Ma Ying-jeou pada hari Kamis tanggal 4 Juni memberikan pendapatnya yang bertajuk “Melihat Sejarah, Tinggalkan Duka, Ciptakan Masa depan”. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa kedua kejadian besar tersebut memberikan pelajaran yang sama akan satu hal, baik dalam maupun luar negeri, yakni yang berkuasa tidak dapat lari dari kedukaan, dan harus berani menatap langsung sejarah yang telah terjadi, berani berpikir akan duka tersebut, barulah dapat keluar dari lingkaran sedih dan menuju masa depan. Ma menyebutkan bahwa pernyataan tentang “Tragedi 4 Juni” kali ini adalah yang terakhir kali dari dirinya sebagai Presiden Republik Tiongkok. Oleh sebab itu, dirinya menghimbau kepada pemerintah Daratan Tiongkok agar dapat melihat kenyataan dari sejarah, keluar dari duka dan menciptakan sebuah media komunikasi sebagai landasan dalam menuju masa depan bersama.
Presiden Ma meminta pihak yang berkuasa untuk melihat kembali sejarah Tragedi 4 Juni. Selain menghindari kejadian serupa terulang kembali, Ma juga mengharapkan instansi terkait dapat melakukan rehabilitasi terkait peristwa tersebut, dengan sikap yang antusias mendamaikan rasa sakit keluarga korban tragedi.
Juru Bicara Istana Kepresidenan, Chen Yi-xin mengatakan, “Dengan cara demikian, maka dapat memberikan reaksi yang positif kepada Taiwan. Mendekatkan kedua hati yang jauh, dan membangun landasan kuat bersama yang stabil dalam hal komunikasi antar selat, dan membuka dunia yang baru bagi generasi yang akan datang.”
Presiden Ma selanjutnya mengatakan bahwa pada jaman masa Semi~Gugur, pihak dinasti yang berkuasa memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk memberikan pandangan yang berbeda, sehingga hal ini dikenang terus oleh khalayak umum hingga saat ini. Pihak Taiwan yang terus melakukan upaya keras selama 7 tahun terakhir ini, telah membentuk sebuah landasan yang kuat dengan berpedoman kepada Konsensus 92, dalam hubungan antar selat. Jika pihak Daratan Tiongkok juga ingin memperdalam asas demokrasi yang ada, Presiden Ma menganggap hal tersebut adalah sebuah landasan bersama yang kuat bagi hubungan antar selat di masa yang akan datang.