(Taiwan, ROC) – Rabu ini (3) Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou (馬英九) saat melangsungkan konferensi video dengan mahasiswa Universitas Stanford Pusat Demokrasi, Perkembangan dan Aturan Hukum menjawab pertanyaan mantan ketua Dewan Intelijen Nasional AS, Thomas Fingar, mengenai bagaimana implementasi “Inisiatif Perdamaian Laut Selatan”.
Presiden menyampaikan, pasca disampaikan “Inisiatif Perdamaian Laut Selatan”, Taiwan menandatangani perjanjian perikanan dengan Jepang, dengan cara yang damai untuk menyelesaikan pertikaian, menciptakan sebuah area untuk menyelesaikan pertikaian adalah cara yang bisa dilakukan, karena wilayah Laut Selatan wilayahnya lebih besar, masalah lebih rumit. Presiden menyampaikan, “Inisiatif Perdamaian Laut Timur” adalah negosiasi 3 kelompok bilateral, kedepannya beliau akan mengajukan “Peta Inisiatif Perdamaian Laut Selatan”.
Presiden Ma menyampaikan : Selain konsep perdamaian, menurunkan ketegangan dan menghindari perluasan secara sepihak yang ada dalam “Inisiatif Perdamaian Laut Selatan”, kami masih ada satu “peta”, akan saya sampaikan dalam waktu dekat. Saya menilai, situasi dan kondisi Laut Timur semakin pelik, perairan akan semakin luas, sehingga kita harus semakin sabar.
Kepala negara mengutarakan, saat ini Taiwan dan Filipina sedang melakukan negosiasi dan sudah ada beberapa kesepakatan penting dan diharapkan kedepannya dapat menggunakan solusi laut Timur untuk menyelesaikan pertikaian Laut Selatan.
Beliau menuturkan, kedaulatan tidak boleh dipecah belah, sumber daya alam boleh dibagikan, ini adalah satu-satunya cara untuk menurunkan ketegangan regional.
Selain itu, ada publik yang menanyakan apabila Daratan Tiongkok menjadi demokrasi apakah masyarakat Taiwan menyambut baik hubungan antar selat atau bahkan mendukung untuk bersatu? Presiden menjawab, ini adalah pertanyaan yang sangat hipotetis, namun sangat berharap Daratan Tiongkok dapat menjadi demokrasi. Kepala negara mengambil contoh sejarah di era Musim Semi-Gugur (770 SM~476 SM), saat itu setiap pemimpin dapat menerima perbedaan pendapat dan menerima kritik. Ma percaya bila Daratan Tiongkok menjadi demokrasi maka akan mendekatkan jarak antar warga.
Ma menyampaikan : Apabila kita dapat berbuat demikian, Daratan Tiongkok juga bisa, saya yakin jarak antara selat akan semakin dekat, saya dapat menjamin sampai saatnya nanti warga pasti akan mendukung bersatu, namun paling tidak warga antar selat dapat berpikir di atas landasan yang sama.
Ma menuturkan bahwa kemajuan Daratan Tiongkok sangat mencengangkan, pertumbuhan ekonomi yang cepat, namun keinginan masyarakat Daratan Tiongkok berperan dalam kebijakan nasional adalah hal yang tidak dapat dihindari juga tidak dapat dirubah, dalam setiap kesempatan yang ada, beliau selaku teman menyampaikan Daratan Tiongkok dapat mencontoh proses demokrasi Taiwan. Ma yakin bila Daratan Tiongkok dapat menjadi demokrasi maka hubungan antar selat akan semakin erat.
Kembali ditegaskan, kepala negara dibawah konstitusi Republik Tiongkok mendorong perairan Taiwan yang tidak bersatu, tidak merdeka, tidak ada kekerasan, dengan Konsensus 92, satu Tiongkok berdasar persepsi masing-masing mendorong perkemangan perdamaian antar selat, semua ini adalah elemen yang menjadikan kondisi saat ini, yang juga kondisi hubungan antar selat, kondisi ini berbeda dengan 7 tahun yang lampau.
Beliau menilai, kondisi hubungan antar selat berkembang sampai tingkat tertentu akan mendapat dukungan dari kebanyakan orang, bahkan kandidat presiden dari partai oposisi juga berpendapat untuk mempertahankan kondisi saat ini. Ia terbuka kepada setiap orang yang setuju untuk mempertahakan kondisi saat ini, juga percaya dengan demikian perdamaian dan stabilisasi antar selat akan terus berkelanjutan.