(Taiwan, ROC) - International Institute for Management Development (IMD) menyampaikan laporan tahunan persaingan global 2015 (IMD World Competitiveness Yearbook), dimana urutan untuk Taiwan lebih dari tahun sebelumnya, berada di urutan ke 11 dunia, penyebabnya adalah pada “penampilan ekonomi” , “efisiensi pemerintah”, “efisiensi pengusaha” mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan perekonomian Taiwan sejak tahun 2014 hingga sekarang ini terus berkembang; namun Dewan Pengembangan Nasional (NDC) menegaskan, dalam laporan juga memperlihatkan meningkatnya biaya hidup masyarakat Taiwan, maka seharusnya urutan tidak meningkat, malahan harus turun.
IMD yang mengumumkan “Laporan Tahunan Persaingan Global 2015” dimana dari 61 negara yang di survei, Taiwan menempati urutan ke 11, naik 2 tingkatan dibandingkan dengan tahun 2014, yang mana dari 4 kategori yang dinilai, untuk kategori “penampilan ekonomi” , “efisiensi pemerintah”, “efisiensi pengusaha” mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu, sedangkan untuk kategori “infrastruktur” Taiwan mengalami penurunan.
NDC menekankan, dari penilaian menunjukkan, untuk “ekonomi domestic” Taiwan mengalami peningkatan paling banyak, ini mencerminkan tahun lalu ada pertumbuhan riil Produk Domestik Bruto (PDB), keragaman produk dan pasar ekspor, serta ketangguhan menghadapi siklus iklim ekonomi dan lainnya; tetapi dari penilaian juga beranggapan, biaya hidup Taiwan mengalami peningkatan.
Ketua Divisi Pengembangan Ekonomi, Wu Ming-hui mengatakan, “Yang paling utama adalah untuk mencerminkan meningkatnya biaya hidup, mereka beranggapan, harga properti, biaya transportasi dan lainnya sebagai bagian dari biaya hidup mengalami peningkatan, biaya sewa perkantoran juga meningkat, ini mempengaruhi “harga”, ini merupkan bagian penilaian bagi Taiwan.”
Terkait dengan untuk kategori “infrastruktur” tahun ini, Taiwan mengalami penurunan, NDC beranggapan, hal ini memperlihatkan tingkat kemudahan sumber air Taiwan serta adanya perbaikan infrakstruktur pada bagian pendistribusian barang, selain itu kepadatan konsumsi energi, emisi karbon dioksida yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain, juga termasuk dalam kategori “segmen belakang” ini.